Profit v.s. Benefit

Oleh: Cecep Ernanto

Sudah lama tidak membuat tulisan pendek refleksi wirausaha. Ini karena kesibukan menyelesaikan buku yang sudah lama ngak kelar kelar.. hehe.. Tapi Insyallah bulan Juli 2019 ini saya rampungkan. Semoga buku saya nanti bisa menjadi khazanah ilmu baru buat sahabat-sahabat semua. Mohon doa agar diberi kelancaran, kemudahan dan kebaikan dalam menyelesaikannya.

Namun sore ini saya sudah ngak bisa menahan diri untuk membuat tulisan pendek refleksi wirausaha. Itung-itung refreshing, keluar dari zona berpikir yang itu itu saja selama dua bulan ini, saya putuskan membahas tentang profit & benefit dalam bisnis. Satu tema yang penulis angkat saat diminta menjadi pemateri gathering & halal biahalal salah satu perusahaan di Garut seminggu yang lalu.

Beberapa dari kita mungkin saja baru mendengar istilah benetif dalam bisnis. Atau lebih tepatnya kita selalu menyamakan antara benefit dan profit. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda, walaupun terdapat irisan.

Profit adalah sejumlah keuntungan yang didapat dari hasil transaksi usaha setelah dikurangi HPP dan biaya lain-lain. Profit merupakan bentuk keuntungan usaha secara finansial, berupa uang. Baik itu didapat secara langsung, sesaat setelah selesai transaksi, atau didapat kemudian sebagai keuntungan yang didapat diakhir periode usaha.

Sedangkan benefit adalah bentuk kompensasi yang kita dapat atas aktivitas usaha kita. Sebagai bentuk imbal jasa yang didapat dari orang yang telah mendapatkan layanan dari aktivitas usaha kita. Benefit kita dapatkan secara langsung dan juga tidak secara langsung. Namun, penulis meyakini bahwa benefit ini seringkali datang sebagai bentuk imbalan atas aktivitas baik yang kita lakukan kepada orang lain yang berinteraksi dengan kita. Baik itu interaksi secara secara langsung ataupun tidak langsung. Benefit ini dapat kita terima dalam bentuk finansial, material, atau dalam bentuk non-material.

Untuk mengulas masalah benefit, penulis akan meminjam istilah ‘bank budi’ yang digunakan oleh sastrawan Brazil, Paulo Coelho. Coelho menggambarkan bahwa ‘bank budi’ adalah tempat kita menyimpan segala bentuk kebaikan yang pernah kita lakukan untuk orang lain tanpa mengharap imbal jasa secara langsung. Kita membantu orang yang membutuhkan bantuan kita sehingga kebaikan kita tercatat sebagai bentuk budi baik. Sebagai bentuk amal sholih, yang pasti dicatat oleh Malaikat Rokib sang penulis amal baik. Seolah olah kita sedang menabung kebaikan agar dapat kita tarik kompensasinya pada saat kita butuhkan.

Jika diperbandingkan, maka penulis memandang bahwa benefit ini bekerja seperti layaknya penyimpanan tabungan kebaikan dan penarikan kompensasi atas kebaikan yang kita simpan di ‘bank budi’. Terkadang, kita tidak bisa menikmati secara langsung keuntungan dari kebaikan yang kita lakukan seperti layaknya profit. Tapi kita bisa menariknya sewaktu-waktu disaat kita butuhkan. Atau terkadang benefit ini keluar secara otomatis saat kita dalam kondisi terdesak, hadir untuk membantu kita tanpa kita minta dan tanpa kita sadari.

Benefit ini penulis yakini sebagai bentuk janji Allah SWT tentang datangnya rejeki yang tidak disangka-sangka. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq : 2-3). Siapa diantara manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, maka Allah SWT memberikan jaminan atas rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka. Sedangkan ciri orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, serta orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran: 133-135).

Setelah memahami dimensi dari benefit, sudah selayaknya kita mulai melakukan evaluasi terhadap model bisnis yang kita jalankan selama ini. Sudahkah kita merancang bisnis yang bisa mendatangkan profit sekaligus benefit? Atau jangan-jangan selama ini kita hanya ngoyo mencari profit belaka. Bisnis kita hanya menyibukan kita mencari keuntungan secara finansial dan material sebesar-besarnya yang bisa kita nikmati secara langsung.

Sedangkan kita mengabaikan sisi benefit. Kita tidak peduli dengan tabungan kebaikan dari bisnis kita di ‘bank budi’. Kita tidak pernah mau merugi sedikit pun untuk bisa menghindari kecurangan dalam bisnis. Berprinsip bahwa lebih baik orang lain yang rugi daripada kita rugi. Kita halalkan segala cara agar profit yang kita dapatkan semakin berlipat. Malah bila perlu kita bersaing dengan sengit dengan saudara kita sendiri yang memiliki produk/usaha yang sama. Biarkan orang lain rugi, malah kalau perlu sampai mereka gulung tikar, agar usaha kita tetap berjaya.

Sahabat UMKM, jika kita memaknai bisnis seperti ini, maka jangan heran bila seringkali kita mendapati kebuntuan yang tidak habis-habisnya saat menghadapi persoalan bisnis. Ketika kita sepi orderan, tidak ada seorangpun yang datang membantu kita untuk memberi pekerjaan. Ketika kita dalam kesulitan menghadapi kendala usaha, tidak ada yang peduli dengan kita. Saat bisnis kita terus merugi, orang-orang malah semakin jauh meninggalkan kita. Susah bagi kita mencari pertolongan. Sehingga, usaha yang kita jalani semakin hari terasa semakin sulit.

Jika benar demikian, mari kita periksa, sudahkah bisnis kita berorientasi pada benefit? Sudah besarkan tabungan kebaikan kita di ‘bank budi’ karena bisnis yang kita jalani? Sudah layakkah kita menarik kompensasi atas simpanan kebaikan kita di ‘bank budi’ untuk membantu kesulitan kita menjalani usaha? Atau sudah pantaskah kita mendapatkan janji Allah SWT atas rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka?

Bagi penulis, bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat menyeimbangkan antara orientasi profit dan benefit. Bisnis yang tidak hanya melulu soal mendapat keuntungan finansial, tetapi juga memberikan manfaat yang luas, berimpact. Sebab pada masa kini, bisnis yang hanya melulu berbicara profit akan sangat mudah runtuh. Seolah kehilangan satu pondasi bisnis yang tidak kasat mata. Padahal bisa jadi pondasi teknologi, SDM, dan manajemen bisnis sudah sangat memadai.

Terkadang berbeda dengan bisnis yang berorientasi pada profit dan benefit secara seimbang, atau malah benefit nya lebih besar ketimbang profitnya. Penulis sering menyaksikan model bisnis seperti ini lebih tangguh dan tahan terhadap goncangan, walaupun pondasi teknologi, SDM, dan manajemennya masih rapuh. Bisnis seperti ini seperti memiliki pondasi tidak kasat mata yang lebih kokoh. Dan itu adalah kompensasi dari ‘bank budi’. Janji Allah SWT tentang rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka bagi orang yang selalu memberi tanpa pamrih, pandai menahan amarah, pemaaf, dan selalu berbuat kebaikan.

Penulis teringat satu pesan indah dari guru ngaji penulis, “Biarkan kita rugi karena menolong orang lain, daripada orang rugi karena keserakahan kita. Sebab saat orang lain rugi karena keserakahan kita, bisa jadi itu adalah penghambat datangnya rejeki kita yang lebih baik dan lebih besar. Namun ketika kita rugi karena menolong orang lain, ingatlah janji Allah SWT untuk orang-orang yang selalu berbuat kebaikan. Rejekimu akan datang dengan cara yang tidak sangka-sangka.”

Sahabat UMKM, penulis yakin kita mampu mulai menyeimbangkan orientasi profit dan benefit dalam bisnis kita. Dengan jalan bisnis, kita bisa melakukan lebih banyak kebaikan seperti yang selalu dicontohkan oleh para Sahabat Rasulullah SAW. Seperti Abdurahman bin Auf dengan kurma busuk yg dia beli, seperi Usman Bin Afan dengan Sumur Raumah yang dia beli.

*Salam UMKM Kreatif, Berdaya, Hebat*

_*Penulis adalah Direktur Holistika Institute, Founder Golden Age Centre, dan Founder Pesantren Vokasional Holistik._

*Jika merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan sebarkan tanpa mengeditnya.*

Iklan

DEMOKRASI PANCASILA: Demokrasi yang tidak Mengenal istilah Oposisi

Oleh : IR.HM.IDRIS LAENA,MH
SEKRETARIS FRAKSI GOLKAR MPR RI

Terus Terang,tulisan ini saya buat karena Sering kali merasa terganggu Mendengar istilah,’OPOSISI’ yang diucapkan oleh Para Pengamat,Politisi dan Bahkan oleh Pakar Hukum Sekalipun,Yang menurut Hemat saya tidak Tepat.

Pancasila Sebagai Dasar Negara kita,Yang kita akui sebagai Sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,Telah menjelaskan Dengan gamblang melalui Sila ke empat :
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.Dalam permusyawaratan/Perwakilan”yang bermakna,Bahwa Semua proses pengambilan kebijakan,Selalu mengedepankan Musyawarah untuk Mufakat,dan jika musyawarah tidak tercapai barulah Opsi pengambilan keputusan diambil melalui Voting oleh perwakilan yang ada di Legislatif.

Karena itulah,maka selama Orde baru praktek ini dilaksanakan termasuk memilih Presiden dan Menetapkan Haluan Negara,yang kita kenal dengan istilah GBHN.Sehingga Presiden disebut MANDATARIS MPR.

Namun REFORMASI pada tahun 1998,Menuntut Reformasi di segala bidang,termasuk Reformasi Hukum dan Demokrasi.Presiden tidak lagi dipilih oleh Anggota MPR,Melainkan dipilih lansung oleh Rakyat,Yang memaksa terjadinya Amandemen UUD Negara 1945,sebanyak Empat kali.
Namun pada kenyataannya,Meskipun hasil amandemen membuat kita tidak lagi mengenal Lembaga Tertinggi Negara yaitu MPR,Namun pada hakekatnya Presiden,MPR,DPR,DPD dan (beberapa lembaga tinggi negara) memiliki kedudukan yang sama.Sehingga tidak bisa saling mengintervensi antara satu dengan yang lainnya.

Pemilihan Presden secara Lansung oleh Rakyat.Bermakna ingin memberi Legitimasi yang kuat kepada Presiden dan Wapres.Namun setelah Pilpres dilaksanakan,Siapapun Peserta Kontestasi,Maka Seyogyanya harus legowo mendukung Presiden dan Wakil Presiden terpilih.Untuk dapat menjalankan Pemerintahannya selama lima tahun kedepan.Sesuai Amanat yang tersirat dalam PANCASILA (khususnya Sila keempat),dan UUDN 1945.karena Keduanya tidak memberi ruang dan tidak mengatur tentang adanya istilah OPOSISI.

Bagaimana Fungsi Chek and Balances?
Yang jelas di Indonesia menganut system Presdential,Yang berarti bahwa Presiden terpilih Meskipun dipilih oleh mayoritas Rakyat,namun tetap dapat dikontrol oleh Legislatif dari Fraksi-Fraksi yang ada di Parlemen baik yang tergabung dalam Koalisi ataupun yang tidak masuk dalam Koalisi pendukung.(Koalisi dibentuk sebagai Syarat dukungan untuk mengusung Capres/Cawapres pada PILPRES namun tidak selalu bersifat Permanen karena juga tidak diatur dalam Konstitusi)
Tetapi yang perlu di Pahami bahwa tugas Anggota legislatif sesuai amanah Konstitusi yaitu,Melaksanakan Fungsi ,”pengawasan,Penganggaran, dan Legislasi”

Berdasarkan Uraian diatas,Saya berpendapat, Bahwa jika undang-undang Pemilu dirubah,Maka yang penting di Pertimbangkan bahwa Peserta Kontestasi Pilpres tidak perlu hanya diikuti dua pasangan,Termasuk tidak perlu diadakan Dua putaran untuk menetapkan Pemenang yang mendapatkan dukungan mayoritas.Tetapi Semakin banyak peserta Kontestasi,maka akan lebih baik dan cukup satu putaran.Dan yang memperoleh Suara terbanyak Langsung ditetapkan Sebagai Presiden/Wakil Presiden terpilih.
Hal ini untuk menghindari terbelahnya masyarakat,Yang berpotensi merusak persatuan dan kesatuan Bangsa.

Bukankah,Demokrasi PANCASILA mengajarkan bahwa Siapapun yang menang,maka yang kalah harus
mengakui dan mendukung meskipun tetap dapat mengkritidi di Parlemen.Sesuai sila :”Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah,Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan”

JAKARTA,Sabtu 29 Juni 2019

GELAR “HAJI” BUKAN PEMBERIAN BELANDA*

_Tiar Anwar Bachtiar_

Beberapa waktu ke belakang ini tersebar beberapa tulisan entah darimana sumbernya yang mengatakan bahwa gelar “haji” pada masa Indonesia masih dijajah oleh Belanda merupakan pemberian dari pemerintah Kolonial Belanda sendiri. Hal demikian sengaja diberikan untuk mengawasi siapa-siapa saja yang yang telah menunaikan haji ke Mekah. Mereka penting untuk dikenali dan diawasi mengingat pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Belanda banyak dilakukan oleh mereka yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Oleh sebab itu, untuk memudahkan Belanda mencegah kaum Muslim yang pulang haji melakukan pemberontakan, maka disematkanlah gelas “haji” di depan nama mereka. Benarkah demikian?

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah “tidak”. Bahkan, kesimpulannya tergategori gegabah dan terlampau simplisistik. Kesimpulan sejarah simplisistik semacam ini sering muncul di tengah masyarakat Indonesia yang pada umumnya awam sejarah. Buku-buku sejarah dan kajian-kajian sejarah yang baik dan serius jarang menjadi bacaan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, wajar bila cerita-cerita seperti di atas muncul. Tujuannya mungkin untuk menunjukkan bahwa menggunakan gelar “haji” bukan merupakan hal yang terpuji. Untuk itu perlu dicari legitimasi sejarah dari mana gelar itu datang. Muncullah kemudian cerita rumor seperti di atas yang kalau dicari sumbernya amat sulit, karena seringkali hanya merupakan dugaan-dugaan yang kemudian menyebar menjadi cerita dari mulut ke mulut.

Sayang sekali, cerita semacam ini pada era media sosial yang amat cepat memassifkan informasi hanya dari sumber tunggal segera menjalar ke mana. Bahkan, kekuatan ceritanya semakin diperkuat manakala website milik ormas besar ikut menyebarkannya. Sebut saja contohnya dalam “Asal-Usul Gelar Haji” yang dimuat di nu.or.id. Dalam situs ini dikutip pendapat Agus Sunyoto yang menyebut adanya “Ordonansi Haji” tahun 1916 yang mewajibkan penggunaan gelar haji untuk mengawasi para haji, karena umumnya sering menjadi pemimpin perlawanan di Indonesia. Pendapat ini kemudian di-copy paste oleh situs-situs yang lain dan menyebar secara massif ke mana-mana sehingga dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Kelemahan pertama pendapat di atas adalah mengutip “Ordonansi Haji 1916”. Persoalannya bukan pada pengutipan atau penyebutan, melainkan pada keberadaan ordonansinya itu sendiri. Sepanjang periode Hindia Belanda (1800-1942) peraturan (ordonansi) mengenai haji terbit pada tahun 1825 tentang pembatasan kuota jamaah haji, 1859 tentang aturan pelaksanaan haji, dan 1922 yang berisi aturan tentang pelayanan haji yang lebih baik. Tidak ditemukan sama sekali ada ordonansi haji tahun 1916. Kalaupun ada bukan ordonansi, melainkan pelarangan menunaikan ibadah haji oleh pemerintah terkait tengah belangsungnya Perang Dunia I yang dikeluarkan sejak tahun 1915, walaupun dalam praktiknya jamaah haji Indonesia tetap banyak yang berangkat meski jumlahnya menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Pelarangan ini juga tidak ada kaitan dengan masalah ideologis atau gelar, melainkan terkait masalah keamanan perjalanan haji. (lihat: Saleh Putuhena, Historiografi Haji Indonesia, 2007: 170-173; Husnul Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, 1996: 92-98).

Kedua, tidak benar bahwa gelar haji baru dipakai sejak tahun 1916. Bahkan, pernyataan ini menunjukkan keteledoran sejarah yang fatal. Berbagai fakta yang jumlahnya tidak terhitung banyak sekali yang menunjukkan bahwa gelar “haji” sudah dipakai sejak lama di Indonesia bahkan sejak sebelum Zaman Klonial. Salah satunya yang dikemukakan oleh Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam (2013: 33-34). Ia menyebut bahwa pada tahun 1674, anak Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten naik haji. Ia merupakan anak raja di Jawa yang pertama kali naik haji. Sepulang dari Mekah tahun 1675, ia kemudian disebut sebagai “Sultan Haji”. Sebelumnya, beberapa bangsawan Banten sudah berangkat haji juga pada tahun 1638 dan 1651. Sepulang dari Mekah, mereka menyematkan gelar “haji” di depan namanya, yaitu Haji Jayasantana dan Haji Wangsaraja, lalu Haji Fatah. Fakta ini menunjukkan bahwa sejak lama gelar “haji” sudah populer di Indonesia, dan sama sekali bukan buatan Belanda. Bila pada abad ke-17 saja gelar “haji” sudah populer, apalagi abad-abad selanjutnya. Pada saat Sarekat Islam didirikan tahun 1911, pendirinya sudah populer disebut “haji”, yaitu Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Ketiga, mengenai gelar haji ini justru sikap Belanda malah ingin menghapuskannya, hanya saja mereka tidak sanggup melakukan itu. Hal ini terlihat jelas dari Ordonansi Haji tahun 1859. Salah satu ketentuan dalam ordonansi ini adalah bahwa sepulang dari Mekah mereka harus menempuh ujian mengenai masalah Mekah dan Islam. Hanya apabila mereka lulus ujian ini, barulah mereka dianggap berhak untuk mempergunakan gelar haji di depan nama mereka. Ujian ini maksudnya untuk mengurangi pengaruh orang-orang haji yang tidak disenangi pemerintah terhadap masyarakat. Sebab, di masyarakat umum, mereka yang pernah pergi haji dan menggunakan gelar haji mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi dari masyarakat. Agar mereka tidak berpengaruh lagi; atau minimal dapat mengurangi pengaruh mereka, maka penggunaan gelar “haji” justu ingin dihilangkan oleh Belanda. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1993: 32).

Alasan ketiga ini semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa pada masa lalu, terutama pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 posisi mereka yang pernah menunaikan ibadah haji ke Mekkah sangat penting dan strategis. Mereka yang melaksanakan ibadah haji pada masa itu, disebabkan faktor geografis, menyebabkan perjalanan haji menjadi perjalanan yang sangat penting. Perjalanan haji bukan hanya sekedar menjadi perjalanan spiritual belaka seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini setelah transportasi udara massal mudah diakses. Perjalan haji pada masa itu adalah juga perjalanan mencari ilmu dan membangun relasi internasional. Mereka pada umumnya bermukim di Mekah atau Jeddah dalam waktu yang cukup lama sebelum atau sesudah melaksanakan ibadah haji. Selama mereka berada di sana, sebagian besar menggunakannya untuk belajar dan membangun relasi internasional.

Selama mereka “ngelmu”dan membangun jaringan di Tanah Suci, terbangunlah kesadaran tentang kondisi tanah air mereka yang sedang terjajah sama seperti di belahan dunia Islam yang lain. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kolonial Belanda banyak tokoh yang sepulang haji tampil menjadi tokoh-tokoh pergerakan yang memapu mempengaruhi masyakarat untuk melawan pemerintah Belanda. Salah satu yang cukup penting adalah munculnya gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat yang sekaligus menjadi motor perlawanan terhadap Belanda, yaitu kaum Padri. Cristian Dobbin dalam Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847 (2008: 198-202) menjelaskan bahwa munculnya para pemimpin Padri dan pengaruh mereka terhadap masyarakat tidak terlepas dari pengaruh yang didapatkan dari kawasan Hijaz sepulang haji. Pengaruh ini bahkan semakin kuat hingga mampu menggerakkan masyarakat untuk angkat senjata melawan Belanda pada Perang Padri (1833-1838).

Pengaruh gerakan para haji ini semakin menguat memasuki abad ke-20. Hasil ngelmu di Mekah dari guru-guru mereka dan kenalan mereka sedunia menginspirasi para haji ini untuk membuat suatu terobosan gerakan baru selain gerakan militer seperti para pendahulu mereka. Pendekatan baru yang dimaksud adalah pendekatan politik dengan cara mendirikan organisasi-organisasi gerakan yang cukup efektif untuk mendapat dukungan rakyat secara langsung. Mula-mula Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905; lalu Hadji Oemar Said Tjokroaminota memperluas cakupan politiknya dengan mendirikan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1911. Setahun berikutnya 1912 Haji Ahmad Dahlan yang pernah tinggal cukup lama di Mekah mendirikan organisasi Muhammadiyah yang berfokus pada pendidikan dan kegiatan sosial untuk membentengi umat dari pemurtadan. Tahun 1923 di Bandung Haji Muhammad Yunus dan Haji Muhammad Zam-zam mendirikan Persatuan Islam (Persis), Haji Abdul Halim mendirikan Persyarekatan Ulama di Majalengka, dan contoh-contoh lain yang jumlahnya cukup banyak. Gara-gara haji ini juga, para pengasuh pesantren akhirnya menempuh jalan para aktivis Islam dengan mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) pada tahun 1926.

Munculnya gerakan-gerakan Islam tersebut semakin menekan posisi politik Belanda di tanah jajahannya ini. Oleh sebab itu, Belanda berusaha untuk menekannya supaya tidak berbahaya. Masuk akal bila tahun Ordonansi Haji tahun 1859 membatasi dan cenderung melarang penggunaan gelar “haji”, karena masyarakat memang amat menghormati gelar ini sejak lama. Ini jelas sekali menunjukkan bahwa gelar “haji” bukan pemberian Belanda, melainkan budaya yang sudah melekat lama di kalangan kaum Muslim di Indonesia. Wallâhu A’lam.

Tiar Anwar Bachtiar (Sejarawan; Dosen STAI Persis Garut dan Universitas Padjadjaran Bandung)

BISNIS PENGHEMAT BBM TERBAIK

082166434299 wa/hp

Cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan serta reward dengan bisnis eco racing untuk pemula.
Bisnis Eco Racing
Bisnis Eco Racing
BISNIS ECO RACING
Bisnis Eco Racing – Salam sejahtera bagi sobat sekalian di seluruh nusantara, perkenalkan SULAIMAN CP/WA 0821 6643 4299, agen resmi

Disini saya akan mencoba berbagi sebuah informasi yang sangat penting dan semoga berguna bagi sobat sekalian. Sebuah informasi Cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan dengan bisnis eco racing untuk pemula tahun ini.

Bagi anda yang sedang mencari peluang usaha, inilah cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan untuk anda. Bisnis Eco Racing adalah suatu peluang yang sangat cocok untuk sobat yang butuh cara mendapatkan penghasilan tahun ini. Demikian simpelnya bisnis ini sehingga saya sangat percaya bahwa anda bisa mendapatkan penghasilan dengan bisnis eco racing ini.

APA ITU BISNIS ECO RACING ?
Sebelum lebih lanjut kita lihat gr dibawah ini..

Bagaimana sobat, apa yang anda pikirkan..??

Bisnis ini adalah sebuah cara mudah mendapatkan penghasilan tahun ini, yang dirancang sedemikian rupa. Baik produk maupun sistemnya yang begitu sederhana dan mudah untuk di pahami dan dikerjakan. Dengan cara gotongroyong setiap mitra menjalankan bisnis eco racing sehingga percepatan pertumbuhan bisnis menjadi baik. Mendapatkan penghasilan dengan bisnis eco racing sangat dimungkinkan bagi semua orang yang serius menjalankan.

Perusahaan dengan sistemnya telah mengatur dengan begitu adilnya pembagian benefit bagi setiap mitra. Produk yang demikian bermanfaat bagi masyarakat luas dan menjadi kebutuhan yang pokok di masa modern ini. Produk penghemat bbm yang tentunya sangat penting perananya bagi perputaran ekonomi rakyat. Inilah yang membuat kita begitu yakin bahwa Bisnis Eco Racing adalah sebuah cara mudah dan cepat bisnis untuk pemula tahun ini.

Untuk penjelasan perihal bahan bakar dan bagaimana terciptanya bahan bakar dapatkan informasinya dalam artikel mengenai BAHAN BAKAR dari wikipedia.

Bagaimana Cara Mudah & Cepat Mendapatkan Penghasilan ?
Bisnis Eco Racing
Bisnis Eco Racing
Banyak yang bertanya kepada saya, apa rahasianya untuk, mendapatkan penghasilan dengan bisnis untuk pemula?. Simpel saja sebenarnya jika anda miliki keyakinan yang kuat serta konsistensi yang teguh untuk menjalankan eco racing. Banyak sudah mitra eco racing yang sudah membuktikan hasilnya. Termasuk saya pribadi telah merasakan manfaat dari cara mudah dan cepat bisnis eco racing ini.

Caranya tidak sesulit yang anda bayangkan sebenarnya, ketika anda miliki ketulusan untuk membantu mitra-mitra anda. Maka penghasilan dan reward sudah pasti akan anda dapatkan dari eco racing. Pertanyaanya apakah anda rela untuk bekerja lebih banyak dan lebih serius membantu mitra anda?. Jika jawaban anda “YA” maka selamat anda sudah berada di jalaur yang tepat, cara mudah dan cepat bisnis eco racing untuk pemula.

Mendapatkan penghasilan dengan bisnis eco racing.
Bisnis Eco Racing
Bisnis Eco Racing
Tiada yang mustahil ketika anda percaya pada kemampuan diri anda sendiri bersama team anda. Bahwa Penghasilan dengan bisnis eco racing itu nyata adanya ketika anda jalankan dengan tulus iklas. Cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan akan anda temukan dengan alamiah ketika anda berikan hati anda untuk mitra-mitra anda.

Sebab dengan membantu team anda, artinya anda sedang membangun sebuah pondasi bisnis yang kuat dan mampu bertahan lama. Tidak mudah runtuh meski berbagai kendala terjadi dalam prosesnya. Dengan banyaknya kendala maka anda akan semakin belajar dan semakin tangguh.

Hingga akhirnya anda berkreasi terbentuklah pola anda sendiri, jati diri anda sendiri, cara sukses anda sendiri. Itulah cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan hasil kreasi original anda yang boleh anda tularkan bagi banyak orang.

Cara Cepat Bisnis Eco Racing Untuk Pemula ?
Bisnis Eco Racing
Bisnis Eco Racing
Sesungguhnya tiada rahasia yang kami sembunyikan dari cara mudah dan cepat mendapatkan penghasilan dengan bisnis eco racing untuk pemula. Semuanya transparan dan terbuka, anda para pemula atau yang berencana untuk terjun dalam bisnis ini.

Silahkan saja bergabung segera dan dapatkan bimbingan dari yang sudah membuktikan berhasil. Inilah perbedaan yang sangat nyata antara bisnis diluaran sana dengan bisnis eco racing.

Di bisnis ini anda akan kami bimbing dengan segala kemampuan dan pengalaman yang kami miliki. Semua ilmu yang kami punya akan kami transfer kepada anda, sebab prinsip bisnis ini adalah sukses mitra adalah wajib jika anda ingin sukses.

Artinya jika anda tidak sukses maka akan terjadi persaingan dari setiap lini untuk menuju hasil final. Tetapi di Bisnis Eco Racing justru sebaliknya, sukses mitra lebih dahulukan berikutnya barulah sukses leader.

Cara Mudah Dan Cepat Bisnis Untuk Pemula.
Bisnis Eco Racing
Bisnis Eco Racing
Mungkin anda salah satu orang yang sedang mencari sebuah cara untuk sukses dalam menjalankan bisnis. Jika “ia” maka anda silahkan lanjutkan baca tulisan ini, cara mudah dan cepat bisnis untuk pemula. Dimana dengan cara ini anda akan menemukan jalan bagaimana memulai sebuah bisnis.

Banyak kendala yang ditemui ketika kita menjalankan sebuah bisnis, baik bisnis konvensional maupun bisnis bersistem atau francise. Disamping modal yang harus tersedia dalam jumlah tertentu yang cukup besar.

Maka peta persaingan juga tidak boleh luput dari perhatian kita sebagai pebisnis. Sebab memang dunia bisnis yang begitu dinamis dengan segala dinamika pertaruhan yang ada di dalamnya.

Lalu bagaimana cara mudah dan cepat bisnis untuk pemula?, ya ada satu cara agar bisnis anda lajunya mudah dan cepat. Tidak terbentur dengan modal yang harus terus menggulung. Bisnis Network Marketing adalah salah satu jawaban untuk kecepatan perubahan bisnis menjadi lebih baik.

Dalam hal ini Bisnis Eco Racing adalah salah satunya yang saat ini sedang trend di Indonesia. Bagaimana ratusan orang telah berhasil meraih impianya dalam bisnis ini hanya dalam tempo 6 bulan saja. Dan yang luar biasa rata-rata mitra eco racing meraih reward dalam waktu 3-4 bulan saja.

ika anda ingin mengetahui bagaimana detail bisnis eco racing dan bagaimana cara mudah dan cepat bisnis untuk pemula dengan eco racing. Silahkan klik tombol dibawah ini untuk terhubung dengan kami di whatsapp…!!!

082166434299 wa/hp

Amalan malan nisyfu sya’ban

# MALAM NISFU SYA’BAN ,,,,
ba’da Maghrib ( 20-21 April 2019 )
Malam Nisfu Sya’ban Jatuh Pada Malam Minggu 20 April 2019 atau Sabtu Malam
Malam ke 15 bulan Sya’ban, .
Nabi Sholallohu Alaihi Wassallam
bersabda ,,,,

” barangsiapa yg memberitahukan
berita datang nya bulan Sya’ ban
kepada yang lain ,
maka haram api neraka
baginya .”

di anjurkan membaca ,,,,
– Surah Yasin ( 3x )

Surah Yasin ke .1

” di baca untuk memohon panjang
Umur dan keTaatan serta
keTaq waan dan dapat
istiqomah kepada Alloh Ta’ala .”

Surah Yasin ke .2

” di baca untuk memohon di luas-
kan Rezeqi yg halal & menolak
Bala .”

Surah Yasin ke 3

” di baca untuk memohon di
tetapkannya Iman Islam hingga
Akhir hayat .”

berdo’alah secara khusyu’ …
meminta apa apa yg tersirat dalam hati ,

Karena malam nisfu Sya’ ban adalah malam yg sangat di ijabah
untuk di qobul semua doa doa &
hajat hajat yang di inginkan

Para Ulama menyatakan bahwa
Malam nisfu Sya’ ban juga di namakan malam pengampunan
atau malam Maghfiroh .

Imam Al Gozhali RA. mengistilahkan malam nisfu
Sya’ ban sebagai malam yg penuh
dg Syafaat ( pertolongan ) menurut beliau ..

Malam ke 13 bulan Sya’ ban Alloh
memberikan 3 Syafaat kepada hamba – NYA

Malam ke .14 ” seluruh Syafaat di berikan secara penuh .”

Malam ke .15
” umat islam dapat memiliki banyak sekali kebaikkan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun .”

Karena pada malam itu Alloh Ta’ala menurunkan pengampunan
kepada seluruh penduduk bumi
terutama kepada hamba hambanya yg Sholeh .

Doa ,,

” Allohumma bariklana fii
Sya’ bana wa Romadhona .”

artinya ,

” ya ,Alloh berilah ke berkahan di
bulan Sya’ ban dan
sampaikanlah umurku
menjumpai bulan Romadhon .”

baca ,
– .Astaghfirulloh al Adzim ( 100x )
,- Tahmid & Takbir. ( 100 x)
– Sholawat Nabi. ( 100x )

dan dzikir dzikir lainnya ..

Wallohu Alam ,

🌸Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

SAMPAIKAN 3 GRUP KEPADA ORANG LAIN MAKA INI ADALAH SEDEKAH JARIAH DAN PADA SETIAP ORANG YANG MENGAMALKANYA KAMU AKAN IKUT MENDAPATKAN PAHALANYA INSYA ALLAH AAMIIN….

*INDAHNYA BERBAGI*

SEMOGA BERMANFAAT

Mencintai Rasululloh

*MENCINTAI BAGINDA ROSULULLOH ﷺ DENGAN MENGENALI AKHLAK MULIA ROSULULLOH ﷺ*

1. Baginda selalu diam.

2 . Berbicara ketika perlu.

3. Perbicaraannya fasih, ringkas tetapi padat .

4. Menghadapkan seluruh tubuhnya bila berbicara dengan seseorang.

5. Hatinya selalu sedih (inginkan umat dalam kebaikan dan terlepas dari azab الله swt).

6. Selalu menundukkan pandangan kerana tawaddu’.

7. Berfikir terus-menerus.

8. Menghargai nikmat sekecil apa pun tanpa memperlekehkannya.

9. Tidak pernah mencela makanan. Apabila suka, Baginda akan makan. Jika tidak, ditinggalkannya tanpa mencelanya.

10 . Tidak pernah marah yang ada kaitan dengan urusan dunia.

11 . Marah bukan kerana nafsu.

12 . Apabila kebenaran dipermainkan, Baginda akan bangkit untuk berusaha mempertahankannya.

13 . Apabila marah Baginda akan memalingkan muka.

14 . Apabila suka Baginda akan memejamkan mata.

15 . Tidak pernah berkata kotor, berbuat keji dan melampaui batas.

16 . Tidak pernah berteriak-teriak di pasar.

17 . Tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Malah Baginda memaafkan & berlapang dada.

18 . Tangan Baginda tidak pernah memukul selain untuk berjihad dijalan الله swt.

19 . Apabila menghadapi dua perkara Baginda memilih yang paling mudah selagi ia bukan dalam perkara ma’siat.

20 . Di rumah, Baginda adalah manusia biasa yang membasuh pakaian, memerah susu & membuat sendiri segala keperluan diri.

21 . Ketika duduk atau pun berdiri, Baginda selalu berzikir.

22 . Raut wajahnya selalu ceria, perangainya dapat dicontohi dengan mudah, lemah lembut & peramah.

23 . Tidak pernah bersikap keras dan bertindak kasar, berteriak-teriak, lebih-lebih lagi mencela orang lain.

24 . Tiga perkara yang dijauhi; perselisihan, sombong & segala yang tidak diperlukan.

25. Tidak pernah mencela & memaki keturunan orang lain.

26 . Tidak pernah berbicara kecuali sesuatu yang menjanjikan pahala.

27 . Perbicaraannya memukau siapa pun yang mendengarnya lalu terpegun seolah-olah ada burung melintas di atas kepala mereka.

28 . siapa yang melihat Baginda sepintas lalu akan merasa gerun & hormat terhadapnya.

29 . siapa yang selalu bergaul & telah dekat mengenali Baginda, akan menyayanginya sepenuh jiwa raga.

30 . Baginda pasti memberi tempat kepada orang yang ingin duduk & tidak membedakan di kalangan mereka.

31 . siapa yang meminta sesuatu, pasti dipenuhinya atau jika sebaliknya ditolak dengan tutur kata yang lemah lembut.

32 . Tangan Baginda selalu terbuka kepada sesiapa sahaja tanpa pilih kasih. Baginda adalah ayah bagi mereka semua.

33 . Di mana pun Baginda berada, di situ terpancar cahaya ‘ilmu, sikap malu & shobar serta amanah.

34 . Tidak ada yang berani meninggikan suara di hadapan Baginda kerana kewibawaan Baginda.

35 . Semua mengakui keutamaannya kerana ketaqwaannya ; menghormati orang tua, menyayangi yang kecil, mengutamakan orang yang ada hajat, menjaga keperluan & kebajikan orang asing.

36 . Tidak terus memotong percakapan orang lain. Jika ingin memotong, Baginda hentikan dahulu atau pun berdiri.

37 . Paling berlapang dada.

38 . Paling tepat dalam berbicara.

39 . Paling halus keperibadiannya.

40 . Paling ramah & beradab dalam pergaulan & muamalahnya.

Perbanyakkan Sholawat pada Nabi..dengan mengikuti aturan2Nya yg telah dicontohkan,,