*Ketika Khadijah Menyatakan Cinta Pada Muhammad Al-Amin*

Seketika tubuh Al-Amin bergetar. Menyadari bahwa Khadijah baru saja menceritakan tentang dirinya sendiri!

Setelah mendekatkan dirinya pada Muhammad Al-Amin demi perasaannya. Setelah menanyakan arti mimpi pada pamannya Waraqah yang juga orang pintar di Arab, tentang Matahari yang berputar-putar di atas Makkah.
Setelah Waraqah menafsirkan bahwa dirinya akan menikah dengan *Manusia Agung yang ketenarannya mendominasi Jagad Semesta.*

Setelah mengutus sahabatnya Nafisah untuk menanyakan perasaan Muhammad Al-Amin pada dirinya.

Setelah, setelah, setelah dan setelah berbagai usaha yang dilakukan oleh dirinya demi menyempurnakan perasan cinta pada Muhammad yang ia kagumi sejak awal pertama mengenalnya, akhirnya terjadilah perbincangan romantis penuh keridhoan Ilahi. Antara Khadijah dengan Muhammad Al -Amin.

Ya. Khadijah yang kala itu belum menjadi Ummul Mu’minin sejatinya telah memiliki perasaan cinta yang menggelora pada sosok Muhammad yang ketika itu juga belum menjadi Rasul dan baru bergelar Al-Amin. Kecintaan Khadijah kepada Muhammad Al- Amin adalah kecintaannya kepada kejujuran dan spiritualitas.

“ _Apa yang dapat kulakukan untukmu atas kedatanganmu?_ ,” tanya Khadijah pada Al- Amin ketika Muhammad mendatangi rumahnya.

Putra Siti Aminah itu hanya diam. Muhammad Al-Amin tidak mampu berucap sepatah kata pun. Rasa malu lebih menyelimuti dirinya yang santun. Penuh kesopanan yang tinggi. Lidah Al-Amin terdiam. Ia tertunduk makin sempurna dalam kesucian martabat sebagai seorang pria.
Khadijah, yang sesungguhnya telah tau apa maksud kedatangan Muhammad, kembali memecah keheningan. Wanita mulia itu mengambil peran menata suasana. Mengajukan sebuah pertanyaan, adalah sebuah cara cerdas yang akhirnya Khadijah lakukan.

“ _Apakah aku boleh bertanya satu hal, padamu_ ?,” pertanyaan Khadijah mencairkan kondisi. Menenangkan sang Al- Amin, dengan penuh kasih pada pujaan hati.

“ *_Silahkan…_* ”

“_Apa yang akan kau lakukan dengan upah dagang yang kau dapatkan dari kerjamu_ ?,” putri Khuwailid nan cantik itu mulai to the point, dengan satu pertanyaan yang langsung menjurus pada inti. Cerdas. Khadijah, Ummul Mu’minin memang wanita yang sungguh cerdas.

“*_Apa maksudmu_* ?”

“ _Aku ingin tahu, apa diriku dapat melakuan suatu hal untukmu_ ?” Mulianya sikap Khadijah. Dia menawarkan bantuan, tapi tanpa merendahkan sang pujaan yang ia Muliakan.
Wanita berakal yang seluruh wujudnya telah dikuasai oleh api asmara terhadap Muhammad Al-Amin itu, lebih memilih menggunakan kalimat yang mengarah pada apakah dirinya memiliki kemampuan untuk membantu.
Padahal sudah sangat jelas, sebagai wanita kaya raya yang juga “bos” bagi keponakan Abu Thalib itu, dirinya pasti sangat mampu. Namun dihadapan Muhammad, dia tak ingin merasa lebih tinggi dari sosok pria yang ia kagumi.

“ *_Pamanku, Abu Thalib menginginkan aku menikah dengan upah dagang yang kudapatkan itu,_* ” jawab Al-Amin.

Senyum Khadijah mengembang, bercampur kebahagiaan.

“ _Apa kamu setuju jika aku mewujudkan keinginan pamanmu? Aku kenal seorang wanita yang dari segi kesempurnaan dan kecantikan sangat sesuai denganmu.
Seorang wanita baik, suci, dan berpengalaman. Banyak orang terpandang yang ingin meminangnya, sehingga membuat wanita-wanita pembesar Arab iri padanya. Wahai Muhammad Al-Amin, aku sampaikan pula padamu tentang kejelekan wanita itu. Bahwa dia pernah bersuami dua kali._ ”

“ *_Siapakah namanya?_* ,” tanya Al-Amin.

“ _Khadijah !!_ ”

Seketika tubuh Al-Amin bergetar. Menyadari bahwa Khadijah baru saja menceritakan tentang dirinya sendiri. Muhammad tak berani mengangkat kepalanya. Makin menunduk tak tau harus berkata apa. Diam. Terdiam dalam keheningan hati dan kejernihan pikiran yang sangat dalam. Suasana kembali hening.
Diamnya Muhammad yang makin menunjukkan kewibawaan dan kesantunan sebagai “lelaki Mulia” , membuat air mata Khadijah menetes. Sungguh, ia makin mencintai Muhammad atas dasar besar cintanya pada Tuhan yang diyakini oleh Al- Amin itu.

“ _Mengapa engkau tidak menjawabku? Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Dan tidak akan pernah menentangmu dalam setiap keadaan serta ujian. Hatiku telah tertambat kepadamu. Di dalam taman hatiku terdapat kecintaan untukmu. Jika engkau tidak menerima tawaranku, ruhku akan terbang dari ragaku._ ” Ucap Khadijah.

Al-Amin hanya makin tertunduk. Jiwanya bersimpuh dalam keAgungan.

“ _Mengapa engkau hanya diam dan tak menjawabku_ ? Sungguh, kerelaanmu adalah kerelaanku. Dan aku akan selalu menaatimu sepanjang usiaku._ ” Khadijah melanjutkan.

“ *_Mengapa kau berkata seperti itu? Dirimu adalah ratu Arab dan aku hanya seorang pemuda yang bekerja dengan berniaga._* ”Akhirnya Al Amin bersuara.

Dengan kelembutan bijak dalam tutur, Khadijah meyakinkan lelaki Agung yang ada dihadapannya itu. Sosok yang kelak akan di puja oleh Semesta.
Sosok yang kelak akan ia bela sepenuh hidupnya. Dengan darah dan daging serta nafas cinta sucinya. Penuh kasih, ia menyampaikan puncak harapan pada sang pujaan.

“ _Duhai Al Amin, orang yang rela mengorbankan jiwa untukmu, apa ia akan lebih memilih untuk mempertahankan hartanya_ ? Wahai putra kepercayaan Makkah, wahai pondasi wujud dan seluruh harapanku, aku akan menutupi kepapaanmu.
Segala bentuk material dan sosialku akan aku korbankan untukmu. Wahai Matahari Makkah yang benderang, memancarlah dari jendela harapan hatiku. Wujudkanlah harapan pamanmu yang sudah tua dan selalu berharap agar engkau segera bersanding dengan seorang wanita. Janganlah kau cela aku. Berikanlah ruang hak kepadaku, dan lihatlah di dalamnya aku tergila-gila padamu. Zulaikha dan para wanita Mesir pernah tergila oleh pesona Yusuf, dan sungguh kini aku dapat mengetahui rasanya. Engkau sangatlah Agung. Jangan kau membuatku putus-asa. Demi Ka’bah dan bukit Shafâ, jangan kau usir aku dari diri hidupmu. Bangun dan pergilah temui pamanmu. Sampaikan padanya untuk segera meminangku. Dan lihatlah nanti, engkau akan mendapatiku sebagai wanita yang tegar dan setia di setiap hembusan nafasmu._ ”

Tak lama berselang setelah hari itu, pernikahan pun dilangsungkan.
Abu Thalib telah mengakhiri pembicarannya sebagai tanda berakhirnya sambutan dari pihak lelaki. Paman Khadijah, Waraqoh kemudian ingin memulai ijab pernikahan. Namun mulutnya terasa berat dan tidak bisa menyampaikan apa-apa. Melihat hal itu, Khadijah mengambil peran.

“ _Paman, sekalipun engkau pemegang semua urusanku dan saksi kehidupanku namun melihat keadaanmu, kali ini izinkan aku maju untuk menggunakan hak-ku._ ” Dengan gagah namun tetap penuh kelembutan, Khadijah lalu mengucapkan akad nikahnya sendiri.

” _Muhammad yang Mulia. Aku nikahkan diriku untukmu dengan mas kawin serta biaya perkawinan ini aku ambil dari kakayaanku yang telah lebih dahulu kuserahkan dan menjadi milikmu. Segerakanlah untuk menyembelih unta serta menyiapkan resepsi pernikahan. Dan masuklah ke rumah istrimu kapan saja engkau mau._ ”

Siti Khadijah yang kemudian menjadi Ummul Mu’minin. Pengagung cinta karena Rabbnya. Mencintai pujaannya, dengan terus-menerus menjaga kemuliaannya. Yang ia buktikan sejak pertama ijab ia ikrarkan. Berlanjut di setiap detiknya, disetiap hembusan nafas. Hingga tak bernafas lagi.
Kelak ketika Khadijah binti Khuwailid wafat, masa itu dikenal dengan sebutan “ *Aamul Huzni* ”. Atau kita lebih sering mendengarnya dengan nama ” *Tahun Kesedihan* “.Khadijah. Wanita yang begitu memuliakan Al-Amin.

*💕Semoga bermanfaat💕*

Iklan

Pidato Presiden Terpilih “Visi Indonesia” Jokowi – KH. Ma’ruf Amin

14 Juli 2019

Assalamuallaikum wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua
Om swastiastu
Namo buddhaya
Salam kebajikan

Bapak, Ibu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai. Hadirin yang berbahagia.

Kita harus menyadari, kita harus sadar semuanya bahwa sekarang kita hidup dalam sebuah lingkungan global yang sangat dinamis! Fenomena global yang ciri-cirinya kita ketahui, penuh perubahan, penuh kecepatan, penuh risiko, penuh kompleksitas, dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita, sering jauh dari hitungan kita.

Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah dengan inovasi-inovasi. Dan kita semuanya harus mau dan akan kita paksa untuk mau. Kita harus meninggalkan cara-cara lama, pola-pola lama, baik dalam mengelola organisasi, baik dalam mengelola lembaga, maupun dalam mengelola pemerintahan. Yang sudah tidak efektif, kita buat menjadi efektif! Yang sudah tidak efisien, kita buat menjadi efisien!

Manajemen seperti inilah yang kita perlukan sekarang ini. Kita harus menuju pada sebuah negara yang lebih produktif, yang memiliki daya saing, yang memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan-perubahan itu. Oleh sebab itu, kita menyiapkan tahapan-tahapan besar.

PERTAMA, pembangunan infrastruktur akan terus kita lanjutkan! Infrastruktur yang besar-besar sudah kita bangun. Ke depan, kita akan lanjutkan dengan lebih cepat dan menyambungkan infrastruktur besar tersebut, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandara dengan kawasan-kawasan produksi rakyat. Kita sambungkan dengan kawasan industri kecil, sambungkan dengan Kawasan Ekonomi Khusus, sambungkan dengan kawasan pariwisata. Kita juga harus menyambungkan infrastruktur besar dengan kawasan persawahan, kawasan perkebunan, dan tambak-tambak perikanan.

KEDUA, pembangunan SDM. Kita akan memberikan prioritas pembangunan kita pada pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan SDM menjadi kunci Indonesia ke depan. Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan. Itu harus dijaga betul. Jangan sampai ada stunting, kematian ibu, atau kematian bayi meningkat. Tugas besar kita di situ!

Kualitas pendidikannya juga akan terus kita tingkatkan. Bisa dipastikan pentingnya vocational training, pentingnya vocational school. Kita juga akan membangun lembaga Manajemen Talenta Indonesia. Pemerintah akan mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia.

Diaspora yang bertalenta tinggi harus kita berikan dukungan agar memberikan kontribusi besar bagi percepatan pembangunan Indonesia. Kita akan menyiapkan lembaga khusus yang mengurus manajemen talenta ini. Kita akan mengelola talenta-talenta hebat yang bisa membawa negara ini bersaing secara global.

KETIGA, kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan. Jangan ada yang alergi terhadap investasi. Dengan cara inilah lapangan pekerjaan akan terbuka sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, yang menghambat investasi, semuanya harus dipangkas, baik perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi ada punglinya! Hati-hati, ke depan saya pastikan akan saya kejar, saya kontrol, saya cek, dan saya hajar kalau diperlukan. Tidak ada lagi hambatan-hambatan investasi karena ini adalah kunci pembuka lapangan pekerjaan.

KEEMPAT, sangat penting bagi kita untuk mereformasi birokrasi kita. Reformasi struktural! Agar lembaga semakin sederhana, semakin simpel, semakin lincah! Hati-hati! Kalau pola pikir, mindset birokrasi tidak berubah, saya pastikan akan saya pangkas!

Kecepatan melayani, kecepatan memberikan izin, menjadi kunci bagi reformasi birokrasi. Akan saya cek sendiri! Akan saya kontrol sendiri! Begitu saya lihat tidak efisien atau tidak efektif, saya pastikan akan saya pangkas, copot pejabatnya. Kalau ada lembaga yang tidak bermanfaat dan bermasalah, akan saya bubarkan!

Tidak ada lagi pola pikir lama! Tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona nyaman. HARUS BERUBAH! Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Maka kita harus terus membangun Indonesia yang ADAPTIF, Indonesia yang PRODUKTIF, dan Indonesia yang INOVATIF, Indonesia yang KOMPETITIF.

KELIMA, kita harus menjamin penggunaan APBN yang fokus dan tepat sasaran. Setiap rupiah yang keluar dari APBN, semuanya harus kita pastikan memiliki manfaat ekonomi, memberikan manfaat untuk rakyat, meningkatkan kesejahteraan untuk masyarakat.

BAPAK IBU DAN HADIRIN YANG BERBAHAGIA, namun perlu saya ingatkan bahwa mimpi-mimpi besar hanya bisa terwujud jika kita bersatu! Jika kita optimis! Jika kita percaya diri! Kita harus ingat bahwa negara kita adalah negara besar! Negara dengan 17 ribu pulau. Dengan letak geo-politik yang strategis. Kita adalah negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika! Memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Demografi kita juga sangat kuat! Jumlah penduduk 267 juta jiwa, yang mayoritas di usia produktif.

Kita harus optimis menatap masa depan! Kita harus percaya diri dan berani menghadapi tantangan kompetisi global. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia.

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah pengikat utama dalam meraih kemajuan. Persatuan dan persaudaraan kita harus terus kita perkuat! Hanya dengan bersatu, kita akan menjadi negara yang kuat dan disegani di dunia! Ideologi Pancasila adalah satu-satunya ideologi bangsa yang setiap Warga Negara harus menjadi bagian darinya!

Dalam demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silakan. Asal jangan oposisi menimbulkan dendam. Asal jangan oposisi menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, cacian, dan makian.

Kita memiliki norma-norma agama, etika, tata krama, dan budaya yang luhur.

Pancasila adalah rumah kita bersama, rumah bersama kita sebagai saudara sebangsa! Tidak ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila! Yang mempermasalahkan Pancasila! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak mau ber-Bhinneka Tunggal Ika! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak toleran terhadap perbedaan! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak menghargai penganut agama lain, warga suku lain, dan etnis lain.

Sekali lagi, ideologi kita adalah Pancasila. Kita ingin bersama dalam Bhinneka Tunggal Ika, dalam keberagaman. Rukun itu indah. Bersaudara itu indah. Bersatu itu indah.

Saya yakin, semua kita berkomitmen meletakkan demokrasi yang berkeadaban, yang menunjujung tinggi kepribadian Indonesia, yang menunjung tinggi martabat Indonesia, yang akan membawa Indonesia menjadi Indonesia Maju, Adil dan Makmur.

Indonesia Maju adalah Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya. Indonesia yang demokratis, yang hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Indonesia yang setiap warga negaranya memiliki hak yang sama di depan hukum. Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Indonesia yang mampu menjaga dan mengamankan bangsa dan negara dalam dunia yang semakin kompetitif.

Ini bukanlah tentang aku, atau kamu. Juga bukan tentang kami, atau mereka. Bukan soal Barat atau Timur. Juga bukan Selatan atau Utara. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu semua. Tapi ini saatnya memikirkan tentang bangsa kita bersama. Jangan pernah ragu untuk maju karena kita mampu jika kita bersatu!

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bogor, 14 Juli 2019
CALON PRESIDEN TERPILIH,
JOKO WIDODO

Pidato Presiden Terpilih “Visi Indonesia” Jokowi – KH. Ma’ruf Amin

14 Juli 2019

Assalamuallaikum wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua
Om swastiastu
Namo buddhaya
Salam kebajikan

Bapak, Ibu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai. Hadirin yang berbahagia.

Kita harus menyadari, kita harus sadar semuanya bahwa sekarang kita hidup dalam sebuah lingkungan global yang sangat dinamis! Fenomena global yang ciri-cirinya kita ketahui, penuh perubahan, penuh kecepatan, penuh risiko, penuh kompleksitas, dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita, sering jauh dari hitungan kita.

Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah dengan inovasi-inovasi. Dan kita semuanya harus mau dan akan kita paksa untuk mau. Kita harus meninggalkan cara-cara lama, pola-pola lama, baik dalam mengelola organisasi, baik dalam mengelola lembaga, maupun dalam mengelola pemerintahan. Yang sudah tidak efektif, kita buat menjadi efektif! Yang sudah tidak efisien, kita buat menjadi efisien!

Manajemen seperti inilah yang kita perlukan sekarang ini. Kita harus menuju pada sebuah negara yang lebih produktif, yang memiliki daya saing, yang memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan-perubahan itu. Oleh sebab itu, kita menyiapkan tahapan-tahapan besar.

PERTAMA, pembangunan infrastruktur akan terus kita lanjutkan! Infrastruktur yang besar-besar sudah kita bangun. Ke depan, kita akan lanjutkan dengan lebih cepat dan menyambungkan infrastruktur besar tersebut, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandara dengan kawasan-kawasan produksi rakyat. Kita sambungkan dengan kawasan industri kecil, sambungkan dengan Kawasan Ekonomi Khusus, sambungkan dengan kawasan pariwisata. Kita juga harus menyambungkan infrastruktur besar dengan kawasan persawahan, kawasan perkebunan, dan tambak-tambak perikanan.

KEDUA, pembangunan SDM. Kita akan memberikan prioritas pembangunan kita pada pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan SDM menjadi kunci Indonesia ke depan. Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan. Itu harus dijaga betul. Jangan sampai ada stunting, kematian ibu, atau kematian bayi meningkat. Tugas besar kita di situ!

Kualitas pendidikannya juga akan terus kita tingkatkan. Bisa dipastikan pentingnya vocational training, pentingnya vocational school. Kita juga akan membangun lembaga Manajemen Talenta Indonesia. Pemerintah akan mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia.

Diaspora yang bertalenta tinggi harus kita berikan dukungan agar memberikan kontribusi besar bagi percepatan pembangunan Indonesia. Kita akan menyiapkan lembaga khusus yang mengurus manajemen talenta ini. Kita akan mengelola talenta-talenta hebat yang bisa membawa negara ini bersaing secara global.

KETIGA, kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan. Jangan ada yang alergi terhadap investasi. Dengan cara inilah lapangan pekerjaan akan terbuka sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, yang menghambat investasi, semuanya harus dipangkas, baik perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi ada punglinya! Hati-hati, ke depan saya pastikan akan saya kejar, saya kontrol, saya cek, dan saya hajar kalau diperlukan. Tidak ada lagi hambatan-hambatan investasi karena ini adalah kunci pembuka lapangan pekerjaan.

KEEMPAT, sangat penting bagi kita untuk mereformasi birokrasi kita. Reformasi struktural! Agar lembaga semakin sederhana, semakin simpel, semakin lincah! Hati-hati! Kalau pola pikir, mindset birokrasi tidak berubah, saya pastikan akan saya pangkas!

Kecepatan melayani, kecepatan memberikan izin, menjadi kunci bagi reformasi birokrasi. Akan saya cek sendiri! Akan saya kontrol sendiri! Begitu saya lihat tidak efisien atau tidak efektif, saya pastikan akan saya pangkas, copot pejabatnya. Kalau ada lembaga yang tidak bermanfaat dan bermasalah, akan saya bubarkan!

Tidak ada lagi pola pikir lama! Tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona nyaman. HARUS BERUBAH! Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Maka kita harus terus membangun Indonesia yang ADAPTIF, Indonesia yang PRODUKTIF, dan Indonesia yang INOVATIF, Indonesia yang KOMPETITIF.

KELIMA, kita harus menjamin penggunaan APBN yang fokus dan tepat sasaran. Setiap rupiah yang keluar dari APBN, semuanya harus kita pastikan memiliki manfaat ekonomi, memberikan manfaat untuk rakyat, meningkatkan kesejahteraan untuk masyarakat.

BAPAK IBU DAN HADIRIN YANG BERBAHAGIA, namun perlu saya ingatkan bahwa mimpi-mimpi besar hanya bisa terwujud jika kita bersatu! Jika kita optimis! Jika kita percaya diri! Kita harus ingat bahwa negara kita adalah negara besar! Negara dengan 17 ribu pulau. Dengan letak geo-politik yang strategis. Kita adalah negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika! Memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Demografi kita juga sangat kuat! Jumlah penduduk 267 juta jiwa, yang mayoritas di usia produktif.

Kita harus optimis menatap masa depan! Kita harus percaya diri dan berani menghadapi tantangan kompetisi global. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia.

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah pengikat utama dalam meraih kemajuan. Persatuan dan persaudaraan kita harus terus kita perkuat! Hanya dengan bersatu, kita akan menjadi negara yang kuat dan disegani di dunia! Ideologi Pancasila adalah satu-satunya ideologi bangsa yang setiap Warga Negara harus menjadi bagian darinya!

Dalam demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silakan. Asal jangan oposisi menimbulkan dendam. Asal jangan oposisi menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, cacian, dan makian.

Kita memiliki norma-norma agama, etika, tata krama, dan budaya yang luhur.

Pancasila adalah rumah kita bersama, rumah bersama kita sebagai saudara sebangsa! Tidak ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila! Yang mempermasalahkan Pancasila! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak mau ber-Bhinneka Tunggal Ika! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak toleran terhadap perbedaan! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak menghargai penganut agama lain, warga suku lain, dan etnis lain.

Sekali lagi, ideologi kita adalah Pancasila. Kita ingin bersama dalam Bhinneka Tunggal Ika, dalam keberagaman. Rukun itu indah. Bersaudara itu indah. Bersatu itu indah.

Saya yakin, semua kita berkomitmen meletakkan demokrasi yang berkeadaban, yang menunjujung tinggi kepribadian Indonesia, yang menunjung tinggi martabat Indonesia, yang akan membawa Indonesia menjadi Indonesia Maju, Adil dan Makmur.

Indonesia Maju adalah Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya. Indonesia yang demokratis, yang hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Indonesia yang setiap warga negaranya memiliki hak yang sama di depan hukum. Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Indonesia yang mampu menjaga dan mengamankan bangsa dan negara dalam dunia yang semakin kompetitif.

Ini bukanlah tentang aku, atau kamu. Juga bukan tentang kami, atau mereka. Bukan soal Barat atau Timur. Juga bukan Selatan atau Utara. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu semua. Tapi ini saatnya memikirkan tentang bangsa kita bersama. Jangan pernah ragu untuk maju karena kita mampu jika kita bersatu!

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bogor, 14 Juli 2019
CALON PRESIDEN TERPILIH,
JOKO WIDODO

Puisi Cinta Mulla Shadra

Tuhan itu tak terbatas, tanpa ruang, dan tanpa waktu
Namun Dia menjadi kecil sesuai dengan pemahamanmu
Namun Dia akan datang sebatas kebutuhanmu
Namun KeluasanNya sebatas harapanmu
Namun pembicarannya sebatas keimananmu
Mereka yang yatim, Dia menjadi ayahnya dan ibunya

Mereka yang butuh saudara, Dia akan menjadi saudaranya
Mereka yang putus harapan, Dia menjadi harapan
Mereka yang tersesat, denganNya akan menemukan jalan
Mereka yang berada dalam kegelapan akan mendapatkan cahayaNya
Mereka yang sakit akan disembuhkanNya
Tuhan akan menjadi segalanya dan bersama seluruh manusia

Namun dengan syarat keyakinan, dengan syarat kesucian hati, dengan syarat kesucian ruh
Dengan syarat menjauhi perkawanan dengan setan
Cucilah hatimu dari segala keburukan
Cucilah pikiranmu dari segala pemikiran yang salah
Cucilah perkataanmu dari segala perkataan yang buruk
Karena Dia senantiasa menantimu & memanggilmu disetiap lorong-lorong keheningan malam

_*Semoga Bermanfaat, selamat menjalani keheningan*_

Kembali Pada Tuhan

*Kembali Pada Tuhan*……
(Jalaluddin Rumi)
_________________

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan. Karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu…

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya….
Wahai pejalan…

Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayokah datang, dan datanglah lagi !

Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau melambung ke angkasa, ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada Ku, karena Akulah jalan itu”…..

*

*Tafsir Kekuasaan/Kehendak secara filosofis*

*Tafsir Kekuasaan/Kehendak secara filosofis*

Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al Anfal : 17)

Ayat di atas menerangkan bahwa sesungguhnya kehendak, perbuatan atau kekuasaan sejatinya semuanya adalah kehendak Allah. Kenapa semuanya maknanya kehendak Allah.

Jika diurai secara filosifis, sesungguhnya manusia dan alam semesta tidak memiliki apa-apa. Semuanya tidak memiliki kehendak sebutir debu pun. Karena semuanya berasal dari kekuatan Allah.

Jika manusia memiliki kehendak, maka akan tergambarkan ada dua kehendak. Yaitu, kehendak manusia dan kehendak Tuhan. Mungkin kah akal sehat menerimanya? Tentunya sangat mustahil.

Mari kita urai dg akal sehat, ini berlaku bagi yang akal sehat saja.

Jika manusia punya kehendak yg berdiri sendiri terpisah dari kehendak Allah . Maka yg terjadi ada dua kekuasaan/kehendak. Yaitu kekuasaan/kehendak manusia dan kekuasaan Allah. Artinya ada dua area kekuasaaan. Sehingga yg berlaku, kehendak manusia akan berlaku pada area kehendak manusia, demikian pun kehendak Allah hanya berlaku pada area kehendak Allah, karena ada dua area yg terpisah. Apakah ini akan terjadi? Sangat mustahil terjadi.

Jika ada dua area kekuasaan, maka kehendak Allah terbatas. Karena hanya berlaku pada area kehendak Allah saja. Dan sesuatu yg terbatas maka tidak dikatakan maha kuasa, dan sesuatu yg dibatasi maka tidak dikatakan sempurna. Demikian pun sebaliknya Manusia pun akan terbatas pada kehendaknya sendiri.

Akal sehat mengatakan : Mustahil kehendak Allah dibatasi, dan hanya berlaku pada area kehemdaknya sendiri.

Jika akal kita sehat ; maka yang berlaku sebagai berikut :

Karena Allah maha sempurna, maka seluruh kehendakNya tidak dibatasi oleh kehendak lainnya, dan seluruh kehendakNya akan meliputi semua kehendak manusia dan alam semesta karena Allah maha sempurna.

Kesimpulan akal sehat mengatakan bhawa : semua kehendak manusia dan alam semesta pada dasarnya adalah kehendak Allah. Dan kehendak Allah tidak terpisah dan tidak dibatasi oleh kehendak manusia.

Demikian semoga bermanfaat.

*Dialog Kyai dan Santri mengenai para Nabi Cahaya Islam*

“Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?” seru pa kyai

“Ya, Kiai.” jawab santri

“Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?”

“Dinihari rekayasa teknologi.”

“Dari Nuh?”

“Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.”

“Hud?”

“Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.”

“Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?”

“Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil.”

“Pada Ismail?”

“Pengurbanan dan keikhlasan.”

“Ayyub?”

“Ketahanan dan kesabaran.”

“Dawud?”

“Tangis, perjuangan dan keberanian.”

“Sulaiman?”

“Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan.”

“Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!”

“Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian.”

“Dari Zakaria?”

“Dzikir.”

“Isa?”

“Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub.”

“Adapun dari Muhammad, anakku?”

“Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.”

“Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?”

“Tak menentu, Kiai,” jawab sanri terakhir itu, “Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di saat lain kami adalah Ayyub –tetapi– yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya; sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu.”

Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, “Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami.”

“Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan.”

Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.

“Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.”

“Anakku,” Pak Kiai menyela, “pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa.”

“Insyaallah tidak, Kiai,” jawab sang santri, “Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang.”

**Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.

#dinukil dari “Di Zawiyah Sebuah Masjid – Emha Ainun Nadjib”