Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis

*Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis*

(Diambil dari laman Facebook yang ditulis oleh Andi Hakim)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156912083440502&id=779115501

Dua tokoh yang viral di lingkungan sosial media belakangan adalah Ahok yang kembali berkiprah ke politik dan Akbar Tanjung yang mengundang Jokowi di rumahnya.

Ahok yang dulu berkata parpol sarang koruptor kini mendatangi PDIP untuk berkarir di sarang tadi. Ini kali keempat dia berpindah partai dan baginya itu bukan persoalan. Kita masih ingat pada saat ia menyampingkan tawaran parpol untuk mengusungnya di pilkada DKI baru lalu. Alasan sarang koruptor dan enggan membayar mahar menjadi dalihnya. Aksinya dengan segera menyenangkan the so called kelompok relawan independen kawan Ahok. Ia memilih diusung lewat jalur independen.

Belakangan setelah para independent tadi bekerja keras, Ahok dengan mudah berbalik kembali mencari dukungan parpol agar dapat maju di pilkada bertarung dengan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Sekarang Ahok kembali menjadi orang partai dan partai ini adalah partai keempatnya.

Politik adalah soal kekuasaan dan memanfaatkan peluang-peluang. Sejauhmana peluang dapat dikapitalisasi bagi kepentingan sendiri maka itu sah-sah saja. Sehingga wajar orang berkata bahwa soal politik itu bukan soal yang perlu dibela mati-matian, semua orang adalah pragmatis, oportunis kutu lompat sekaligus

Berbeda kisahnya dengan Akbar Tanjung. Baru-baru ini ia menjadi perbincangan di lingkungan partai Golkar, Koalisi Jokowi dan juga Prabowo. Tetapi tidak ada yang membahasnya lebih keras ketimbang grup-grup sosmed di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam.

Ia baru-baru ini mengundang Jokowi hadir ke rumahnya untuk merayakan dies natalis 72 tahun Hmi serta peluncuran pembuatan film pendiri Hmi Profesor Lafran Pane. Beberapa hari sebelum acara tersebut sebuah meme’ Jokowi dan Akbar beredar dengan tulisan: Deklarasi KAHMI dukung Jokowi.

Dengan cepat sekali meme’ tadi menjadi perbincangan dan serangan kepada Akbar. Ia dianggap berkhianat kepada akar rumput kebanyakan alumni Hmi yang memang mayoritas berat ke Prabowo. Akbar lebih jauh dianggap memanfaatkan dies natalis, keluarga alumni dan juga Hmi sebagai alat untuk merapat ke istana.

Saiya tidak terlalu setuju dengan pendapat tadi.

Akbar barangkali satu-satunya tokoh elit politik yang mempunyai y loyalitas total ke satu partai saja.

Ketika 1998 Golkar diserang dari segala penjuru untuk dibubarkan karena terafiliasi sebagai partainya Soeharto, Akbarlah yang berdiri di depan menjaga Golkar dengan hastagnya #GolkarBaru. Ia ingin memisahkan Golkar yang orba dengan Golkar reformis dan Akbar berhasil menjaga Golkar sebagai partai pilihan mayoritas masyarakat Indonesia.

Selang kemudian mereka yang dulunya di Golkar dan ikut mencela Golkar mulai kembali ke Golkar, Akbar pun ditendang dan dikalahkan. Ia kemudian sempat dibawa ke pengadilan terkait dugaan korupsi, dan kehilangan jabatan pimpinan DPR.

Ketika JK naik mengalahkannya di satu Mubes yang keras di Bali, Akbar tidak memperoleh posisi apa pun di Golkar. Tetapi ia tetap di partai tadi. Akbar tidak melompat sebagaimana Wiranto membuat Hanura, Edi Sudrajat-Tri membuat Partai KPI, Sutiyoso. Ryas Rashid dan Andi Mallarangeng membuat PDPDK.

Konsistensi di garis partai inilah yang membuat Akbar dianggap contoh ideal dari apa yang kita sebut loyalitas politik. Ia dibunuh berkali-kali, dan berkali-kali pula ia muncul kembali.

Pada 2014 ketiga Golkar mendukung Prabowo-Hatta, Akbar ikut mendukung. Sekarang ketika Golkar ada di pihak Jokowi, maka wajar ia pun ikut mendukung Jokowi. Bagi senior dan kawan-kawan Hmi yang menurut saya mayoritas mendukung Prabowo maka ini adalah sikap politik Akbar. Ia tidak pernah berbeda dengan Golkar sebagai sebuah parpol. Ini contoh dari seorang loyalis partai dan loyalitas dalam politik.

Di dunia yang penuh dengan intrik, advonturisme, oportunisme, pragmatisme dan saling memanfaatkan maka orang sah-sah saja menjadikan dirinya seperti Ahok, dan sah pula menjadi seperti Akbar Tanjung. Hanya saja, di dunia seperti itu hanya loyalitaslah yang membuat seseorang eksis meski ia mati berkali-kali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.