Demagogi

Oleh : Rocky Gerung

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

ooo

Demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau, yaitu mencari sensasi dalam psikologi massa untuk menikmati kebanggaan diri. Sang tokoh akan mencari penonton demagogis, mereka yang siap menelan angin, siap berjuang dengan modal angin. Dengan psikologi inilah politik mengepung publik. Demokrasi kita hari ini ada dalam situasi itu.

Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk-pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut-menyahut di ruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik. Suatu sensasi aphrodisiacmemompa adrenalin untuk memuaskan politik demagogi: “Aku mengejek, maka aku ada.” Megalomania di sana, hipokrasi di sini. Dua-duanya kekurangan pikiran.

ooo

Negeri ini didirikan dengan pikiran yang kuat: bahwa kemerdekaan harus diisi dengan pengetahuan, agar anak negeri tak lagi dibodoh-bodohi oleh kaum pinter dari luar. Kebodohan mengundang penjajahan.

Kemerdekaan adalah hasil siasat intelektual, oleh yang berbahasa, maupun yang bersenjata. Politikus dan pejuang tumbuh dalam kesimpulan yang sama, yaitu kemerdekaan adalah tindakan pedagogis.

Panglima Sudirman semula adalah seorang guru, lalu jadi jenderal.

Jadi, dari mana kita belajar demagogi?

Kendati suka memanfaatkan emosi massa, Sukarno bukanlah seorang demagog. Ia memang mengumbar retorika, tapi tetap dalam kendali logika yang kuat. Dalam sebuah pidato lapangan di depan barisan tentara, Sukarno mengucapkan kalimat kurang-lebih begini: “Saudara-saudara tentara, kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya rakyat. Jadi kalian adalah alatnya alat.” Bukan sekadar retorikanya bagus, Sukarno mengucapkannya dalam suatu silogisme. Suatu pelajaran logika, bagi rakyat.

Jadi, dari mana kita belajar mengejek? Tan Malaka memiliki kekayaan metafor. Sutan Sjahrir lihai membekuk pikiran lawan debat. Mohammad Hatta bersih dalam berkalimat. Begitu juga yang lain. Pendiri negeri tumbuh dalam tradisi pikiran. Pidato Sjahrir di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1947), ketika mempertahankan kemerdekaan, disebut oleh New York Herald Tribune sebagai salah satu pidato yang paling menggetarkan. Jebakan diplomat Belanda kepada Dewan Keamanan PBB untuk memilih: “Siapa yang Saudara percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami,” ditanggapi Sjahrir dengan enteng: “Mereka mengajukan tuduhan tanpa bukti, ketimbang membantah argumen saya.”

Debat adalah pelajaran berpikir.

Negeri ini dihuni oleh gagasan, karena kita bertemu dengan berbagai pengetahuan mancanegara. Filsafat dan ideologi sudah lama berseliweran dalam pikiran pendiri negeri. Rasionalitas dan teosofi beredar luas di awal kemerdekaan. Sastra dan musik disuguhkan dalam pesta dan konferensi. Suatu suasana pedagogis pernah tumbuh di negeri ini. Tapi jejak poskolonialnya hampir tak berbekas, kini.

Memang, ada yang putus dari masa itu dengan periode Orde Baru: kritisisme.

Teknokratisasi pikiran, ketika itu, melumpuhkan kebudayaan. Birokratisasi politik mengefisienkan pembuatan keputusan, karena tak ada oposisi.

Kritik yang pedas memerlukan pengetahuan yang dalam. Sinisme yang kejam datang dari logika yang kuat. Dua-duanya kita perlukan untuk menguji pikiran publik agar tak berubah menjadi doktrin, agar panggung publik tak dikuasai para demagog. Kita hendak menumbuhkan demokrasi sebagai forum pikiran.

ooo

Debat adalah metode berpikir. Titik kritisnya adalah ketika retorika mulai tergelincir. Titik matinya adalah ketika dialektika terkunci.

Itulah saat kita menikmati debat sebagai pelajaran berpikir, suatu peralatan pedagogis untuk mendidik rakyat dengan pikiran. Demokrasi adalah sekolah manusia, bukan arena sabung ayam. Hari-hari ini, kita tak melihat itu karena busa kalimat memenuhi ruang sosial. Busa kekuasaan, busa dendam, busa hipokrit. Sementara di belakang panggung para dalang mengatur siasat, penonton dijebak dalam psikologi: terlalu optimistis atau terlalu pesimistis. Tak ada yang kritis. Tan Malaka pernah memberi nasihat: “Kita tak boleh merasa terlalu pesimistis, pun tak boleh merasa terlalu optimistis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.”

Iklan

Surat Terbuka untuk Gerakan Mahasiswa Indonesia

🇮🇩 Saya Belajar Banyak Darinya, Sosok Itu Bernama Dokter Hariman Siregar
(Surat Terbuka untuk Gerakan Mahasiswa Indonesia)

Oleh:
RICKY TAMBA, S.E.
(Jurubicara Jaringan ’98)

1 Mei 1950 dia akan genap berusia 69 tahun, sebuah angka penanda kematangan jiwa dan pemikiran bagi seorang manusia. Beberapa hari lalu saya kembali melihatnya berpidato, macan podium yang tak pernah surut keberanian dan heroisme kerakyatannya. Tokoh langka di negeri ini, senang menyepi dari panggung kekuasaan buruan para elite politik mainstream. Dokter Hariman Siregar namanya, Abang panggilan kesayangannya.

Ya, tepat 15 Januari 2019 kemarin, saya yakin Bang Hariman gelisah akan nasib republik yang tak jua maju. Masih sama (andai tak mau dikatakan lebih mundur) daripada keadaan 45 tahun yang lalu, saat dia bergerak bersama ribuan mahasiswa dan rakyat melakukan longmarch dari kampus UI Salemba untuk menentang dominasi modal asing dan kritik terbuka kesalahan strategi pembangunan Orde Baru.

Malari, Malapetaka Limabelas Januari. Sebuah singkatan stigmatisasi hitam rekayasa intelijen Orde Baru guna memukul mundur gerakan mahasiswa 1974 yang kian radikal dan progresif, dipimpin seorang anak muda gelisah bernama Hariman Siregar. Begitu banyak pengorbanan pribadi yang harus dia berikan saat itu, tapi Abang tetap kokoh berdiri menantang ombak kehidupan hingga saya melihatnya beberapa malam lalu. Kami berpisah setelah saya diberikan buku baru berjudul “Menjadi Benih Perlawanan Rakyat. Hariman Siregar, Malari ’74 dan Demokrasi Indonesia,” yang kini telah ditandatangani beliau dengan pesan khusus, “Untuk Ritam, Jangan Berhenti!”

Saat acara peringatan 45 tahun Malari di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat kemarin, saya yakin Abang sangat bahagia banyak sahabat lama dan para yuniormu yang datang, tak peduli sekarang di kubu mana, 01 atau 02 atau bahkan akan tetap memilih untuk tidak memilih. Tapi dari kejauhan, saat Abang tampak sibuk memainkan gadget mengambil foto dari atas tribun kanan Teater Kecil, saya menatap penuh kasih sambil menebak bahwa ingatan Abang pasti sedang kembali bernostalgia ke masa silam, hari di mana perlawanan mahasiswa kembali menunjukkan taringnya menghadapi kekuasaan besar bernama negara.

Bang, resahmu akan negeri dan nasib rakyat, takkan jauh beda dengan resahku. Mimpimu akan demokrasi yang berkeadilan, semoga juga akan tetap terpatri kuat di semangat juangku. Terkadang, apa yang kita perjuangkan, takkan selalu sama dengan hasil yang kita dapatkan.

Cita-cita mulia kita masih butuh waktu dan proses agar dapat terwujud sesejatinya seperti yang selalu kau ajarkan bahwa demokrasi yang benar membutuhkan 4 hal yakni hukum yang adil, partai politik yang sehat, pers yang mandiri dan masyarakat sipil yang kuat. Semua masih buram abu-abu, karena ternyata kita masih harus menunggu datangnya pemimpin baru yang mengerti hakikat demokrasi, masa di mana disparitas ekonomi mengecil, juga negara hadir sebagaimana mestinya.

Kau juga bilang di atas podium beberapa hari lalu bahwa kini demokrasi dibajak oleh uang dan para pemodal, sehingga pembangunan belum berpihak kepada rakyat miskin, sibuk berhutang dan memanjakan modal asing, sebagaimana slide video backdrop panggung di belakangmu, Bang. Tak ada yang bisa membantah seruanmu, walau kini penguasa terus sibuk berdalih dengan berbagai angka statistik yang meragukan bagi kita, kaum yang sadar akan fakta dan data riil lapangan.

Bang, doakan kami para yuniormu generasi 1998 mampu terus melanjutkan amanah perjuanganmu mengembalikan demokrasi, walau sesungguhnya revolusi yang kita mau, agar tatanan ekonomi-politik lebih berpihak kepada rakyat dan semua setara di depan hukum. Terima kasih atas bimbingan dan nasehat berpuluh tahun, yang membuat saya tetap tegar di tengah gelombang pragmatisme dan politik transaksional yang mendisintegrasi bangsa.

Bang, tetap semangat dan sehat selalu agar kita dapat duduk bersama saat sang pemimpin yang kita tunggu akan hadir untuk membenahi republik yang kita cintai sepenuh hati ini. Bila belum tiba waktunya, semoga para pelanjut gerakan mahasiswa Indonesia akan meneruskan jejak langkah dan konsistensimu. Demi demokrasi, untuk rakyat.

Ya, saya Ricky Tamba, saya belajar banyak darinya, sosok itu bernama Dokter Hariman Siregar….

Jakarta, 18 Januari 2019 🇮🇩

SORGA BUKAN CERITA

*-Tulisan bagus dari seorang asing yang memandang Indonesia dari luar-*

Selamat malam sahabat.
SORGA BUKAN CERITA

Musim dingin, ketika salju turun, di Eropa atau Amerika Utara, suhu bisa mencapai *-minus 40 derajat celsius-*. Artinya, kulkasmu masih lebih hangat.

Itulah saat semua tetumbuhan ” mati “, kecuali pohon cemara. Itulah saatnya darahmu bisa berhenti menjadi es ketika kamu keluar rumah tanpa pakaian khusus.

Musim salju adalah ketika manusia bertahan hidup dan beraktivitas yang mungkin, tanpa bisa berjalan jika tak ada bantuan peralatan dan teknologi.

Tanpa itu, mati kedinginan. Dan ada satu periode dimana salju berbentuk badai. Badai salju. Terbayang apa yg bisa dilakukan selain bertahan hidup diruangan berpemanas.

Padang pasir. Begitu keringnya sampai sampai manusia yang berdiam disana membayangkan sungai sungai yang mengalir sebagai surga.

Hanya ada beberapa jenis pohon yang bisa hidup dalam suhu bisa diatas 40 derajat celcius. Keringatmu bisa langsung menguap bersama cairan tubuhmu. Dan keberadaan air adalah persolan hidup mati. Sungguh bukan minyak.

Saya sungguh tidak mengerti ketika ada orang yg masih blm percaya bahwa Indonesia itu serpihan sorga.

Cobalah kamu bercelana pendek, pakai kaos dan sandal jepit jalan jalan di Kanada ketika musim dingin. Atau jalan jalan dipadang pasir. Dijamin mati.

Disini, dinegaramu, kapan saja, mau siang mau malam kamu bisa jalan jalan kaosan tanpa alas kaki. Mau hujan mau panas, selamat.

Di Eropa Amerika paling banter kamu akan ketemu buah2an yg sering kamu pamer2in. Apel, anggur, sunkist, pier, dan semacamnya.
Di Timur tengah paling kamu ketemu kurma, kismis, kacang arab, buah zaitun, buah tin.

Di Indonesia, kamu tak akan sanggup menyebut semua jenis buah dan sayuran, umbi2an, kacang2an, bunga2, rempah2, saking banyaknya.

Di Amerika Eropa, kamu akan ketemu makanan lagi lagi sandwich, hot dog, hamburger. Itu itu saja yang divariasi. Paling banter steak, es krim, keju.

Di Timur tengah ?. Roti. Daging dan daging dan daging lagi.

Di Indonesia ?. Dari Sabang sampai Merauke, mungkin ada ratusan ribu varian makanan. Ada puluhan jenis soto, varian sambal, olahan daging, ikan dan ayam tak terhitung macamnya.

Setiap wilayah ada jenisnya. Kue basah kue kering ada ribuan jenis. Varian bakso saja sudah sedemikian banyak. Belum lagi singkong, ketan, gula, kelapa bisa menjadi puluhan jenis nama makanan.

Dan tepian jalan dari Sabang sampai Merauke adalah garis penjual makanan terpanjang didunia. Saya tdk berhasil menghitung penjual makanan bahkab hanya dari Kemayoran ke Cempaka Putih.

Di Indonesia, kamu bebas mendengar pengajian, sholawatan, Lonceng Gereja, dang dut koplo, konser rock, jazz, gamelan dan ecrek2 orang ngamen. Di Eropa, Amerika, Timur tengah, belum tentu kamu bisa menikmati kecuali pakai head set.

Saya ingin menulis betapa surganya Indonesia dari segala sisi. Hasil buminya, cuacanya, orang2nya yang cerdas2 kreatif dan bersahabat, budayanya, toleransinya, guyonannya.

Keindahan tempat2 wisatanya dan seterusnya. Saya tidak mungkin mampu menulis itu semua meskipun jika air laut menjadi tintanya.

Saking tak terhingganya kenikmatan anugerah Allah swt pada bangsa Indonesia.

Indonesia ini negara kesayangan Tuhan.

Kamu tidak bisa mensyukuri itu semua ?. Jiwamu sudah mati.

*-Pesan-*
Janganlah sorga kita ini kita hancurkan hanya karena syahwat berkuasa dan keserakahan ketamakan tiada batas.

Janganlah kehangatan persaudaraan yang dicontohkan oleh embah kakek opung kita dihancurkan hanya karena kita merasa paling benar dan paling pintar.

Tuhan hanya mensyaratkan kamu semua bersyukur agar sorga ini tidak jadi neraka. Bahkan andai kamu sering bersyukur maka nikmat2 itu akan ditambah.

Bersyukur itu diantaranya, tidak merusak apa2 yg sudah baik. Baik alam lingkungan, sistem nilai, budaya asli, kebersihan dan semacamnya.

*_Jika kita merusak alam,_*
*_Alam akan berproses membuat keseimbangan/keadilan_*

Politik, berjangka pendek jangan sampai merubah sorga ini jadi neraka. *-Jangan berkelahi-*

Pandai2lah menahan diri seperti orang berpuasa. Jangan jadi pengikut orang2 yang haus kekuasaan dan ketamakan luar biasa.

*Maka kenikmatan apa lagi yang hendak kita dustakan ?*

*MARI JAGA NKRI DEMI ANAK DAN CUCU …*

🙏🤝🏽🇲🇨🇲🇨