MENGAPA ORANG TETAP MERASA BENAR WALAUPUN SEJATINYA SALAH.. ?*

Tulisan yg bagus utk yg saling dukung/tdk mendukung:

Pada tahun 1894, sebuah surat yang telah disobek- sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jenderal Prancis. Maka dilakukanlah investegasi besar2an untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Dan kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada *Letkol. Alfred Dreyfus*.

Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Cuman ada dua hal yang dapat membuat kecurigaan terhadap Dreyfus. *Pertama*, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan, dan lebih parah lagi, dia satu2nya pejabat militer yang beragama Yahudi. Waktu itu, _Militer Perancis dikenal anti Yahudi._

Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apa pun. Tapi ini pun malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga degan sengaja menghilangkan semua bukti. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan menginterview guru sekolahnya. Ditemukan dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya memori yg sangat tajam. Maka ini pun dianggap sebagai “bukti” bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen intelijen asing. Bukankah memang agen intelijen harus punya 3 skill itu..? Benarkan..?

Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer, dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai “Degradation of Dreyfus”. Saat diarak oleh massa yang menghujat dia, Dreyfus teriak, “Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara, Hidup Perancis. Hidup Angkatan Darat”. Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya, dan Akhirnya dia divonis penjara seumur hidup di Devil’s Island, pada tanggal 5 Januari 1895.

Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah? Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut *”MOTIVATED REASONING”*. Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah upaya mencari PEMBENARAN atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya..? termotivasi untuk membela atau menyerang ide tertentu, *bukan mencari KEBENARAN secara jernih*, dari pihak mana pun kebenaran itu berasal.

Maka kalau *orang sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro/anti partai politik tertentu*, atau sudah terlanjur gandrung/benci sama seseorang, maka orang akan cenderung mengalami “motivated reasoning” ini. *Apa pun pendapat orang lain yang dianggap musuh akan nampak salah di pikiran “rasional”.* Karena memang itulah hebatnya otak, selalu bisa menemukan alasan rasional kenapa mereka salah, dan saya benar. Orang akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap itu. Bahkan hal2 yang sifatnya netral tiba2 jadi nampak sebagai “bukti” dari kebenaran sikap ini.

Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, *pokoknya saya pro ini, anti itu*, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung pendapat kita, dan mengabaiakan segala argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir yang mewabah akhir2 ini: *CONFIRMATION BIAS*.

Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat jamak ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/madzhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara otomatis mudah sekali terjebak dalam 2 kesesatan pikir di atas.

By the way, bagaimana dengan nasib Dreyfus..?? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah..? bagaimana jika karena salah tangkap, penjahat sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 TAHUN kemudian…!!!

Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning & Confirmation.. Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati2an sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi genocida, dan perang saudara.

Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih..??
Bagaimana agar kita selamat dari 2 sesat pikir di atas..?? agar kita bisa membuat prediksi yang akurat, membuat keputusan yang tepat, atau sekedar membuat good judgement..?

Menariknya, ini tidak berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli tentang “good judgment”, ini justru berkaitan erat dengan bagaimana anda “merasa” (how you feel). Berikut beberapa Tips untuk memiliki “penilaian yang jernih” :

*1. Jangan Terlalu Emosional*. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk menyeleksi kebenaran. Semua argumen yang berlawanan akan cenderung kita abaikan. Sementara hoax-pun, asal cocok dengan selera kita akan buru2 kita yakini kebenarannya.

*2. Pertahankan rasa Ingin tahu (Curiosity).* Rasa penasaran ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin mengecek argumentasi dari dua kubu. Tidak cepat puas buru2 meyakini segala informasi yang masuk.

*3. Milikilah hati dan pikiran yang terbuka (Open-Mind & Open-Heart)*. dengan begini kita akan cenderung mau mendengarkan dan berempati atas posisi masing2 dari dua kubu yang berseteru. Jangan menutup diri hanya mau menerima informasi dari pihak yang pro sama kita, dan langsung mencurigai, bahkan menolak berita dari semua yang kita anggap pro lawan kita.

*4. Jadilah orang yang Independen (grounded).* Jangan mudah anut grubyuk ikut2an pendapat seseorang atau satu kelompok. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain tentang kita. Silahkan pro ini atau anti itu. Tapi jangan overdosis, sampai menganggap segala hal yang dari pihak kita pasti benar dan segala hal yang dari pihak lawan pasti salah.

*5. Milikilah kerendahan hati (Humbleness)* bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal (politik, aliran pemikiran, dll) tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat2 yang berlawanan dengan kita. Dan jika bukti2 menunjukkan kita memang salah, jangan sungkan2 untuk mengakui dan minta maaf…

Kesimpulannya,
menurut Julia Galef, yg ceramahnya di TEDX mendasari tulisan ini:

*”Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal2 yang kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik”*

Jadi apa yang paling kita inginkan..???
Apakah membela mati2an pendapat subyektif kita..?
Ataukah ingin melihat dunia dengan mata hati sejernih mungkin?
Memilih yang benar itu benar dan mengikutinya dalam hidup..?

Iklan

*ADAKAH MANFAAT REUNI ?*

Menurut Prof Ganesha, ahli jantung RS HarKit ,

Reuni, apapun istilahnya adalah suatu upaya mempertemukan kembali yg dulu pernah bersama, upaya mencari eksistensi diri yg mulai pupus dari memori krn dimakan usia.

Bahkan Richard Paul Evans dlm bukunya “Lost December“ menulis “The sweetness of reunion is the joy of heaven.”

“Reuni”, kata DR. Priguna Sidharta “Selain untuk memutar longterm memori di hipocampus, jg utk memperbaiki fungsi nucleus accumbens, bagian otak yg mengurus kesenangan”

Memutar kembali memori adalah satu upaya mencegah *alzheimer* yg memang suatu saat kelak akan menghampiri kita semua cepat atau lambat.

Psikolog UI, Bagus Takwin, mengungkapkan pandangannya soal manfaat reuni :
Kenangan reuni merupakan semacam sarana utk melihat kembali diri kita bbrp thn ke belakang. Dengan melihat masa lalu, seseorang akan mengerti bahwa kehidupan yg dia jalani selama ini merupakan suatu hal yang sangat penting. “Setiap orang melalui kenangannya pasti akan membuat monumen2 dirinya agar dpt selalu mengingat bahwa dia berkembang,”

Melalui sebuah reuni, seseorang jg bisa mendapatkan self esteem. “Saat reuni pasti bertemu dengan teman-teman lama yg tentunya tahu sifat kita yg dulu” Kita juga dpt mengetahui jalan hidup teman2 lama.

Reuni adalah salah satu jalan menyambung dan memelihara tali persaudaraan/persahabatan/silaturrahim yang sangat dianjurkan.

*SEMOGA KITA SELALU SEHAT*

*Tips Etika Reuni Sukses*:

1. Kita hadir dalam reuni sebagai _teman yang sederajat,_ seperti waktu kita masih bersama-sama doeloe.
Peserta reuni harus memiliki jiwa besar, toleran dan mau menahan diri. Bersedia menanggalkan semua atribut dalam dirinya seperti: _jabatan, status sosial, kekayaan dll._

*2. Legowo,* bersedia dipanggil dan memanggil nama teman seperti waktu masih bersama-sama (sekolah/kuliah), tidak memakai embel-embel _pak, bu, komandan, boss, mas, aden, juragan, dst._

3. Jangan membuat teman lain _bad mood, minder,_ maka sebaiknya Anda tidak ceritakan _pekerjaan, keberhasilan bisnis, jabatan, status sosial, kekayaan yang dimiliki, kehebatan anak, istri anda, juga jgn bercerita kegagalan anda dll. pada forum umum (didengarkan banyak orang)._ Jika ingin berbagi cerita tentang hal ini bicarakan secara langsung/khusus pada siapa anda ingin berbagi cerita.

4. Jangan bergunjing.
Berceritalah yg wajar tentang kenangan masa saat bersama-sama doeloe, seperti cerita-cerita yg saat itu tidak terceritakan.

5. Jangan _cemburu,_ jika cowok/cewek yg doeloe anda incar tampak lebih dekat dan akrab dgn teman yg lainnya, atau jgn _cemburu_ lagi jika terungkap kisah cinta cowok/cewek incaran anda, justru pada teman anda sendiri. Jadikan itu _lelucon_ masa laloe saja jangan _baper (bawa perasaan)._ Semua sdh berlalu, apalagi sekarang kita sdh memiliki keluarga masing-masing dan jangan lupa ajak keluarga reuni untuk saling mengenal dan bertambah teman.

*Indikasi Reuni Sukses:*

1. Akan terjalin persahabatan lebih akrab & langgeng.
2. Tidak kapok datang lagi dalam reuni berikutnya.
3. Merasa bangga memiliki teman lama yg masih ramah bersahabat dan merasa dihargai sebagai teman/sahabat.
4. Menumbuhkan kepedulian karena merasa satu alumni.

Semoga bermanfaat. SECAPA REG XIV

*INDAHNYA POLIGAMI RASULULLAH*

Oleh : *Ahmad Sastra*

Sebelum Rasulullah berpoligami, beliau beristri satu yakni Khadijah binti Khuwailid hingga wafatnya. Bermula dari berita yang disampaikan oleh Maisarah ditambah Waraqah bin Naufal akan kemuliaan akhlak Muhammad, maka hati Khadijah tertambat kepada lelaki bergelar al Amin itu.

Dengan penuh ketulusan, Khadijah ingin menghabiskan usinya dengan menemani pemuda Muhammad yang saat itu masih berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun. Saat Muhammad menemuinya, Khadijah berkata, ` Hai anak paman, sungguh aku sangat mencintaimu karena keluargamu, kemuliaanmu, rasa tanggungjawabmu, kebaikan akhlakmu dan kejujuranmu`.

Saat itu meskipun Khadijah adalah wanita cerdas, bijaksana, mulia nasabnya karena dari suku Quraisy dan bahkan seorang wanita milyuner yang tiada bandingnya, namun dengan tulus menawarkan diri kepada Muhammad untuk dinikahinya. Padahal banyak lelaki kaya raya dan terhormat yang berkeinginan menikahinya, namun tidak satupun yang berhasil menundukkan hati Khadijah.

Selanjutnya Rasulullah ditemani paman beliau Hamzah menemui Khuwailid bin Asad untuk meminang dan menikahi Khadijah dengan mas kawin 20 ekor onta. Khadijahlah wanita pertama dan utama yang menemani Rasulullah dalam memperkuat fisik dan mental, memperkuat tekadnya, mendukung perjuangannya mengemban risalah Islam. Khadijah dengan seluruh pengorbanannya selalu memperkuat perjuangan Rasulullah, bukan memperlemah.

Hingga wafatnya Khadijah, Rasulullah tidak berpoligami. Ada dua faktor yang mendorong Rasulullah tidak pernah menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup.

Pertama, sebagai bentuk penghargaan Rasulullah atas semangat jihad Khadijah dalam menciptakan ghirah dan keteguhan pada diri Rasulullah. Kedua, dakwah Islam ketika itu kondisinya tidak menuntut Rasulullah untuk berpoligami. Sebab saat itu al marhalan at tasyi`iyah (pembangunan hukum syara`) belum dimulai dan musuh-musuh Islampun baru sebatas kaum Quraisy.

Namun, pasca wafatnya Khadijah dan hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah mulailah periode baru dalam perjuangan dakwah beliau. Pada periode dakwah di Madinah inilah Rasulullah dituntut untuk berpoligami, padahal poligami adalah perkara berat bagi setiap orang dalam mengharmoniskan istri yang lebih dari satu.

Secara umum tujuan poligami yang dilakukan Rasulullah di Madinah adalah demi meraih kemaslahatan yang lebih besar, tuntutan dakwah dan dalam rangka memperkuat sendi-sendi negara Islam Madinah. Hal ini membuktikan Rasulullah sebagai seorang politikus handal, disamping beliau adalah seorang Nabi yang menerima wahyu.

Secara khusus setidaknya ada tiga dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah. Pertama, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah dimana seluruh perilaku Rasulullah, baik dalam aspek khusus (pribadi) maupun aspek umum semuanya merupakan teladan yang mesti diikuti oleh seluruh umatnya (QS 33 : 21). Dalam keteladanan aspek pribadi inilah para istri Rasulullah berperan sebagai penerjemah dan penyampai atas kehidupan Rasulullah yang sifatnya khusus kepada manusia serta sebagai pengontrol peraturan dakwah diantara barisan wanita.

Kedua, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah dimana seluruh istri Rasulullah masing-masing memiliki keistimewaan yang unik. Mulai dari yang masih berusia muda, berusia tua dan bahkan ada yang merupakan wanita, anak dari musuh Rasulullah. Ada pula dari istri Rasulullah merupakan anak wanita orang yang sangat mengaguminya, ada pula yang berjiwa penyayang terhadap anak yatim.

Dengan ragam tipologi istri-istri Rasulullah inilah cara Rasulullah mengajarkan sekaligus mendakwahkan kepada para sahabatnya dan kaum muslimin atas undang-undang (peraturan) yang indah sebagai pengajaran kepada mereka bagaimana cara bergaul yang sukses dengan tiap-tiap tipologi manusia.

Ketiga, dimensi dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah adalah sebagai jembatan perdamaian di antara suku-suku yang memusuhi Rasulullah. Sebab pasca berdirinya Daulah Islam Madinah, banyak suku kemudian memusuhi Rasulullah. Poligami Rasulullah dapat menghentikan permusuhan, sebab tradisi di Arab ada kewajiban menjaga dan melindungi siapa saja yang menikah dengan wanita dari kalangan mereka. Orang Arab biasa menamakan dirinya sebagai al Ahma` (para pelindung). Dengan tradisi inilah, poligami Rasulullah dapat meringankan kadar permusuhan mereka terhadap Rasulullah.

Namun demikian, poligami yang diperbolehkan dalam Islam justru mendapat serangan bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam hari ini, terutama Amerika dan Inggris dengan mendirikan Universitas Amerika di Bairut dan di Iskandariyah untuk melemahkan ajaran Islam ini.

Setidaknya ada tiga tahapan musuh-musuh Islam dalam menyerang ajaran Islam melalui isu poligami ini. Pertama, marhalah at tasykik, yaitu tahapan menciptakan keraguan terhadap kelayakan dan kebaikan nilai dan prinsip Islam, seperti masalah bolehnya poligami, cerai, haramnya riba dan sebagainya.

Kedua, marhalah an Nabdu, yakni tahapan menjatuhkan nilai dan prinsip Islam, setelah mereka meyakinkan kepada umat Islam, bahwa nilai dan prinsip Islam tidak layak lagi. Ketiga, marhalah ath tharhu, yakni tahapan penawaran nilai-nilai dan prinsip sekulerisme Barat sebagai pengganti nilai dan prinsip Islam.

Konspirasi musuh Islam untuk menjatuhkan nilai dan prinsip Islam terus berlanjut hingga kini dan akan terus berlanjut. Kaum kafir musuh Islam masih begitu yakin bahwa kaum muslimin tidak akan pernah ditaklukkan selama mereka masih berpegang teguh kepada nilai dan prinsip Islam. Karena itu waspadalah atas konspirasi jahat musuh-musuh Islam dalam merobohkan nilai dan prinsip Islam dibalik serangan pemikiran seputar hukum poligami.

Jadi, poligami adalah ajaran Islam yang hukumnya mubah selama memiliki niat yang baik. Lebih utama lagi jika pelaku poligami mampu mengambil hikmah dakwah dan politik dibalik poligami Rasulullah. Meski berat, jika diniatkan ibadah, maka akan membawa hikmah dan kebaikan. Selamat bagi yang sudah berpoligami, bagi yang belum, tidak jadi masalah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Jika ada partai yang menolak poligami, berarti anti Islam, haram umat Islam memilihnya. Gampang kan ?

*[AhmadSastra,KotaHujan,18/12/18 : 15.12 WIB]*

MENGGUGAT MORALITAS KEPALA DAERAH DALAM PEMILU 2019*

*MENGGUGAT MORALITAS KEPALA DAERAH DALAM PEMILU 2019*

Oleh : Dr. Chazali H. Situmorang ( Dosen FISIP UNAS -Pemerhati Kebijakan Publik)

Kita tidak perlu bicara aspek hukum positif. Soal substansi hukum, para ahli hukum banyak jagoannya. Semuanya bisa ditarik keranah hukum. Kesadaran hukum yang tinggi, tetapi tidak diikuti moralitas hukum dan kepantasan, maka hukum itu hanya jadi instrumen yang kaku, dan menghantam siapa saja yang masuk katagori melanggar hukum, tetapi bisa juga menjadi fleksibel jika berhadapan dengan mereka yang disebut “kebal hukum”.

Sebagai ilustrasi, hukum itu ibarat jarum suntik yang tajam dan steril. Jika disuntikkan pada lapisan jaringan lemak yang lembut ( di paha atau di lengan) maka dengan cepat jarum itu menembus kulit yang penuh dengan lemak. Tetapi jarum yang tajam tersebut akan menjadi bengkok jika ketemu dengan bagian tulang dari tubuh.

Maka itu tenaga medis dalam menyuntik sering menghindar jarum suntik untuk tidak ketemu tulang. Jarumnya rusak/bengkok, dan yang punya tulang meringis kesakitan. Jadi jarum dan tulang saling menghindar.

Begitulah wajah hukum kita, menghindari yang “kebal hukum” dan mencari mereka yang takut dengan hukum, yang lebih mudah “ditakuti” dengan ancaman hukum.

Sering kita mendengar pejabat yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pemerintah dalam negeri, jika ada Gubernur, Bupati atau Walikota terkena OTT oleh KPK, maka semantik yang keluar darimulut sang pejabat adalah, “silahkan diproses secara hukum”. “Kita akan non aktifkan yang bersangkuran”. Demikian juga Ketua Partai dimana sang Kepala Daerah ngumpet “didalam sarung Ketua Partai” , langsung dikeluarkan dari sarung sang Ketua, dan dengan lantang meminta “silahkan diproses sesuai dengan hukum”. “Kami tidak melindungi mereka yang bersalah”.

Dalam persidangan, ternyata banyak Kepala Daerah yang jadi terdakwa mengakui menggunakan uang yang diambilnya secara tidak syah, untuk kepentingan partai. Tetapi semua berkelit, bersilat lidah, dan menampilkan argumentasi bahwa tidak ada bukti yang kuat semua tuduhan terdakwa tersebut. Padahal si terdakwa, baru saja keluar dari “sarung” sang Ketua Partai. Itulah namanya “bersembunyi di sehelai lalang”, kata-kata tua yang sampai sekarang maknanya masih sama.

*Moralitas Pemilu 2019*
Terkait Pemilu baik Pileg dan Pilpres yang diselenggarakan serentak 17 April 2019, tentu secara regulasi sudah diatur dengan cermat oleh mereka yang diberi tanggungjawab sebagai penyelenggara dan pengawas. KPU sebagai Lembaga yang bertanggungjawab menyelenggarakan Pemilihan Umum sesuai dengan Undang-Undang sudah mempersiapkan aturan-aturan yang detail agar penyelanggaraan Pileg dan Pilpres 2019 berjalan dengan jujur, adil, dan l;angsung.

Untuk mengontrol kerja KPU apakah sesuai dengan standar aturan yang ditetapkan, maka ada Bawaslu, yang akan mengingatkan, menegor dan melakukan langkah2 yang diperlukan jika KPU melakukan penyimpangan, dan menerima pengaduan peserta Pemilu yang merasa dirugikan. Sistem, mekanisme kerja, tata cara dan sanksi juga sudah disiapkan.

Tetapi, ya tetapi ada ruang kosong dalam penyelenggaraan Pemiliu kali ini, dan juga Pemilu-Pemilu sebelumnya. Semua aturan yang dibuat dan mengikat semua pihak, MISKIN MORALITAS. Akibat miskinnya moralitas, maka terjadilah apa yang disebut dengan MORAL HAZARD.

Moral hazard terjadi karena menggunakan celah hukum yang mungkin belum diatur atau tidak diatur, sehingga terjadilah yang disebut dengan celah hukum. Memang sangat sulit kita mendapatkan aturan hukum yang sempurna sehingga tertutup rapatnya celah hukum.

Celah hukum menurut hemat kita, dapat diatasi dengan moral hukum. Moral hukum hanya dapat dijalankan oleh mereka yang bermoral. Yaitu mereka-mereka yang menjunjung integritas, martabat, harga diri, dan rasa malu yang tebal.

Jika mereka tidak ada mempunyai moralitas hukum, maka dalam perjalanannya, akan lebih mudah untuk melakukan pelanggaran hukum, pembohongan, penipuan, yang sering dibungkus dengan satu kalimat yaitu FRAUD.

Kondisi yang diuraikan diatas, saat ini melanda bangsa kita. Melanda para penyelenggara negara. Melanda para politisi, dan bahkan mereka-mereka yang selama ini ditempatkan pada tempat yang terhormat dalam status sosial masyarakat.

Tidak ada larangan Menteri untuk kampanye bagi paslon yang didukungnya. Dengan syarat sedang bebas tugas atau mengambil cuti. Nyatanya sulit membedakan kapan dia sedang melaksanakan tugas kenegaraan, yang terpisah dengan tugas sebagai petugas partai (tim kampanye). Dengan akses yang dimiliki, dengan kekuasaan yang dipunyai, dengan dana negara yang diamanatkan kepadanya, digunakan dengan malu-malu atau terus terang untuk kepentingan partai.

Tentu rakyat senang bantuan meningkat dari biasanya, dan dijanjikan akan mendapatkan bantuan berikutnya jika “jagoannya” menang. Tetapi apakah mereka mengatakan yang diberikan tersebut adalah uang rakyat dan memang hak rakyat untuk menerimanya, sebagai bentuk redistribusi pendapatan, mudah-mudahan tidak ada yang ngomong seperti itu.

Demikian juga para Gubernur, Bupati, dan Walikota, ada yang terang-terangan menyatakan dalam berbagai acara penyerahan bantuan, dengan pakaian dinas resmi mengatakan bahwa program-program pembangunan, bantuan sosial, penyediaan sarana dan prasarana, dana desa, adalah berkat kebijakan bapak Presiden. Maka disampaikanlah kalimat-kalimat bersayap, jika bantuan ingin dapat lagi, mari kita pilih Presiden sekarang untuk periode berikutnya. Bahkan ada yang sekalian menyebut nama.

Berbagai klaim, yang kita baca dimedia, pernyataan petinggi partai atau tim sukses Paslon, yang mengklaim bahwa sekian persen Gubernur mendukung Pak Jokowi, dan sekian persen Bupati dan Walikota mendukung Pak Jokowi. Klaim-klaim seperti ini, tentu akan merusak kredibilitas, dan integritas Gubernur, Bupati dan Walikota yang disumpah untuk menyelenggarakan negara dengan seadil-adilnya, dan selurus-lurusnya sesuai perataturan dan perundang-undangan.

Mereka disumpah bukan untuk menjadi petugas partai. Saat dipercaya sebagai Kepala Daerah, dihati mereka itu hanya mengenal satu segmen masyarakat yang bernama RAKYAT.Titik. Urus mereka lahir bathin, tanpa memandang suku, agama, ras, golongan dan partainya, serta apapun pilihannya.

Kejadian yang memalukan, dan menjadi pembicaraan masyarakat beredarnya video tentang kelakuan Bupati yang “over akting” mengkampanyekan agar para RT/RW di Kabupaten Cianjur untuk memilih Pak Jokowi sebagai Presiden di kemas dengan bahasa sunda, beredar viral di media sosial beberapa hari yang lalu.

Tiba-tiba kita dapat berita hari ini ( Rabu ) Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, terjerat operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK, diduga menerima duit suap berkaitan dengan anggaran pendidikan. Duit suap untuk Irvan dikumpulkan dari kepala sekolah se-Kabupaten Cianjur.

“KPK menduga uang tersebut dikumpulkan dari kepala sekolah untuk kemudian disetor ke bupati,” ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif kepada wartawan, Rabu (12/12/2018). Duit yang disita KPK dari OTT itu sebesar Rp 1,5 miliar. Selain Irvan, KPK menyebut ada 5 orang lain yang ditangkap.

“Ada kepala daerah, kepala dinas, dan kepala bidang, dari unsur MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) dan pihak lain,” ucap Syarif
.
Saat ini Irvan sudah berada di KPK untuk menjalani pemeriksaan intensif. Lima orang lainnya juga tengah diperiksa. “KUHAP memberikan waktu pada KPK selama maksimal 24 jam untuk menentukan status hukum perkara dan pihak-pihak yang diamankan tersebut,” ucap Syarif.

Tertangkap tangannya Bupati Cianjur, Mendagri langsung berkomentar agar segera proses secara hukum. Bahasanya standarlah, demikian Partai Nasdem tempat Bupati berlabuh pada tambatan yang ketiga (sebelumnya berlabuh di Demokrat, dan Golkar) menyatakan Irvan Rivano Muchtar mundur sebagai Ketua GP Nasdem Jabar. Artinya mereka tidak mau dikait-kaitkan dengan kasus OTT yang dialamai Bupati Cianjur.

Menurut KPK, sepanjang Januari-November 2018, KPK sudah menggelar operasi tangkap tangan (OTT) sebanyak 27 kali. Berbagai pihak terjaring OTT itu, mulai dari anggota DPR, DPRD, gubernur, bupati, kadis bahkan hakim. Berarti rata-rata lebih 2 OTT setiap bulan.
Kejadian yang menimpa Bupati Cianjur, tentu mencoreng demokrasi yang sedang dibangun dengan susah payah. Modus kejadian berulang, seolah-olah sesuatu yang sudah lazim terjadi, dan jika OTT itu karena sial saja.

Dalam suasana yang digambarkan diatas, kita sedang kampanye, dan menyelenggarakan Pemilu 17 April 2019. Suiasana ini benar-benar tidak kondusif. Akan menurunkan peradaban penyelenggaraan pemerintahan.

Padahal dimasyarakat, sekarang ini tanpa bimbingan, dan bantuan pemerintah, bahkan terkesan di hallangi-halangi, sedang tumbuh kesadaran baru, untuk membangun budaya, dan peradaban yang tinggi dengan menempatkan nilai Tauhid, keadilan, kebersamaan, toleransi, sebagai nilai yang universal. Antara lain dengan Gerakan ABI 212, 411, dan Reuni 212 , 2 desember 2018 yang lalu.

*Harapan kepada Bapak Presiden*
Terlepas Presiden Jokowi saat ini sebagai petahana, tetapi jabatan Presiden RI tetap melekat sampai 20 Oktober 2019. Masa setahun kedepan ini, banyak yang bisa dilakukan Presiden sebagai Kepala Negara maupun Kepala Pemerintahan.

Agar kondisi kondusif, proses kampanye terhindar dari intrik-intrik, kampanye hitam, rasa tidak adil bagi Paslon lawan bertanding, Bapak Presiden Jokowi segera membuat kebijakan yang mengandung nilai moralitgas tinggi yaitu :

1. Para Menteri, tidak boleh ikut kampanye. Fokus menyelesaikan tugas-tugas Pemerintah yang telah dijanjikan kepada rakyat sewaktu Pilpres 2014.

2. Jika ada Menteri yang memilih untuk fokus berkampanye sesuai dengan kebijakan partainya, harus non aktif sebagai Menteri, dan menunjuk Menteri ad interim untuk melaksanakan tugas-tugas kementeriannya.

3. Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota tidak boleh ikut dukung-mendukung, harus netral, dan tidak boleh berkampanye. Fokus pada tugas-tugas yang sudah ditetapkan dalam RKPD dan RPJMD. Sebab Kepala Daerah itu adalah bertugas melindungi, mengayomi, memberikan rasa keadilan, pada seluruh masyarakat.

Jika ketiga langkah tersebut, dilakukan Pak Jokowi sebagai Presiden, maka peluang petahana menjadi Presiden akan terbuka lebar dengan cara yang terhormat. Tetapi sebaliknya, jika dilakukan terus pembiaran , bahkan secara sistematis dijadikan instrumen untuk meraih kemenangan, tentu rakyat akan mempunyai pandangan dan penilaian sendiri.

Rakyat akan memilih calon Presiden sesuai dengan hati nuraninya, walaupun dibawah bayangan tekanan-tekanan kekuasaan yang saya yakin berhenti didepan bilik suara. Bilik suara menjadi ruang kosong yang sepenuhnya menjadi milik pemilih dan dengan bebas berzikir, dan berdoa untuk mendapatkan bimbingan Allah SWT, dalam menentukan pilihannya demi masa depan bangsa 5 tahun kedepan. Inilah situasi yang dinamakan rakyat telah mempunyai peradaban yang lebih tinggi dari penyelenggara pemrintahan.

13 Desember 2018
Silahkan di share jika bermanfaat

Memahami Tiga Pilar Utama Bisnis menuju sukses

*Tiga Pilar Utama Bisnis*

Perjalanan saya sebagai pengusaha baru menginjak usia 8 tahun. Saya memulai menjadi pengusaha di usia 25 tahun, nyaris tanpa modal, tanpa ilmu, pengalaman berbisnis, ataupun mentor. Hampir merupakan keputusan yang nekad yang hanya didorong oleh idealisme buta pada saat itu.

Setelah memutuskan berhenti menjadi guru honorer & menolak menjadi PNS, jalan panjang sebagai pengusaha pun dimulai. Dan ternyata Allah SWT memberikan *keberuntungan pemula* bagi saya dalam menjalankan bisnis. Hanya dalam waktu 2 tahun, usaha yg dijalani meroket, hingga bisa menikmati berada di level ‘keberlimapahan harta’ (dalam kadar orang kampung).

Hingga menginjak tahun ke empat, semuanya berubah arah. Titipan rejeki yg dilimpahkan sebelumnya mesti diambil paksa oleh Pemiliknya. Yang tersisa adalah pelajaran berharga tentang menjalankan bisnis dan mengelola titipan rejeki. Dengan cara itu, Allah SWT memberi arah jalan baru untuk belajar menjaga pilar pilar penting dalam kehidupan.

Dari pengalaman itu pula saya memahami setidaknya ada tiga pilar dalam bisnis yang tidak bisa kita abaikan. Tiga pilat tersebut adalah *Pilar Personal*, *Pilar Sosial*, *Pilar Manajerial*.

*PILAR PERSONAL* singkatnya adalah bahwa seorang pengusaha mesti mengenal, paham, serta selesai dengan dirinya sendiri. Mengenal diri sendiri meliputi mengenal potensi, kekuatan dan kelemahan, _passion_, serta aspek terdalam hubungan kita dengan Allah Maha Pencipta. Pengenalan dan paham diri sendiri ini menjadi urusan penting yg mesti segera diselesaikan, sebab tidak sedikit saya menyaksikan, banyak para pengusaha kehilangan arah dalam menjalankan bisnisnya sebab tidak pernah mengenal diri sendiri. Sehingga, saat menjalankan bisnis seringkali cepat merasa lelah, bosan, hingga sering merasakan ketaguan dan kekosongan. Tidak sedikit pengusaha yang hanya 5 cm lagi mencapai kesuksesan ternyata stak dan berhenti tiba tiba, malah kemudian mengulang dari awal sesuatu yg benar benar baru dan diapun tidak mengerti benar. Seringkali saya mendengar dan menyaksikan seorang pengusaha hancur karena tergoda dengan orang lain untuk menjalani bisnis lain yang itu bukan passion nya malah dia tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan yg cukup di bidangnya. Ini hanya contoh kecil, hal yg lebih ekstrim dari ketikdakenalan diri sendiri itu ada banyak lagi.

*Selesai dengan diri sendiri* adalah sebuah istilah yang saya gunakan untuk menunjukan orang yang sudah sangat mengenal dan paham diri sendiri serta hubungan dirinya dengan Allah SWT. Orang yang telah selesai dengan diri sendiri selalu memandang segala sesuatu bukan hanya sekedar tentang bagaimana ‘saya’, namun dia selalu memandang tentang bagaimana ‘orang lain’ dan bagaimana Allah. Setiap keputusan dan langkah yang diambilnya selalu memiliki dimensi luas dan visioner. Orang seperti inilah yang memiliki kepantasan mendapatkan amanat sebagai wadah serta saluran rejeki buat orang lain. Maka tidak heran jika rejekinya terus berlimpah, sebab orang yang telah selesai dengan diri sendiri, akan dengan mudah menjadi penyalur rejeki bagi orang orang yang ada disekelilingnya. Rejeki buat keluarganya, buat para pegawai nya, buat keluarga & tanggungan para pegawainya, buat mitra bisnisnya, buat orang-orang tidak beruntung disekitarnya.

Inilah satu pilar penting yang seringkali kita lupakan, malah kita abaikan. Pilar Personal. Membangun Pilar Personal adalah ikhtiar kita dalam rangka *memantaskan diri* untuk mendapatkan titipan yang berlimpah.

*PILAR SOSIAL* secara singkat saya gambarkan sebagai sebuah kondisi dimana seorang pengusaha terkoneksi secara baik dengan lingkungan sosial yang luas dan melebihi sekat sekat ras dan kepentingan. Dia mampu terhubung dengan baik dengan semua orang. Hubungan yang baik ini terbangun karena dia mampu menjaga dan menangani _konflik of interes_ antara dirinya dengan orang orang yg terhubung dengannya. Dimulai dari lingkaran sosial terkecil, yaitu keluarga.

Berapa kali kita mengalami _konflik of interes_ antara anggota kelaurga, diri sendiri, dan bisnis? Berapa banyak kita bisa menyelesaikannya dengan baik serta tidak ada pihak yg terluka. Atau jangan jangan, kita malah sering membiarkan orang-orang sekitar kita dan yang kita cintai kalah & terluka hanya karena alasan pribadi dan bisnis?

Jika itu yg terjadi, maka mari kita koreksi *Pilar Sosial* kita. Apakah sudah baik? Atau jangan-jangan, usaha kita tidak maju maju sebab terlalu banyak dan terlalu sering orang orang sekitar kita terluka, apalagi yg kita cintai, hanya karena alasan pribadi dan bisnis. Sudah berapa kali kita menolak dan batal memenuhi kebutuhan hangatnya kebersamaan keluara hanya karena urusan bisnis? Berapa besar kira kira luka yg kita buat karena itu? Sehingga tanpa disadari mengalir doa keburukan atas bisnis kita dari orang terdekat yg kita lukai. _Nauzubillah min zdalik_.

Tahu kah kita, dengan kuatnya *Pilar Sosial* maka tidak akan pernah kita kesulitan menemukan orang orang yg siap membantu dan menemani langkah kita dengan tulus. Siap mensupport langkah langkah kita dalam membangun bisnis. Dan kita sebagai pengusaha, sangat sangat membutuhkan itu.

*Pilar Manajemen* adalah kemampuan dan keterampilan kita dalam urusan manajemen. Menguatkan pilar manajemen bukan berarti kita mesti menguasai semua teknis manajemen sehingga kita mesti sekolah manajemen. Tidak. Menguatkan pilar manajemen adalah ikhtiar kita meningkatkan pemahaman tentang semua aspek manajemen bisnis, mencoba menerapkannya sesuai karakter bisnis yg kita bangun, menciptakan budaya perusahaan yang kuat dan tertib secara manajemen. Kuncinya adalah, kita tidak bisa berhenti untuk belajar. Kita mesti terus mencari sesuatu yang baru, sistem & pendekatan baru, seni manajemen baru untuk meningkatkan kapasitas usaha kita. Kita dituntut untuk terus belajar dan mempraktekannya dalam bisnis kita.

Dalam rentang waktu 8 tahun ini, saya pun merasa bahwa 3 pilar ini belum benar benar kokoh dibangun. Tapi paling tidak, saya sudah menyadari kelemahan itu. Sayapun sedikit paham tentang apa yg mesti di bangun dan diperkuat.

Maka saat ini, saat menjelang akhir tahun 2018 ini, saya mencoba merefleksikan semua perjalanan bisnis saya dalam kerangka membangun *3 Pilar Utama Bisnis*. Kemudian saya berusaha mencoba merancang pendekatan pengembangan bisnis saya ke depan dalam kerangka membangun dan memperkokoh *Tiga Pilar Utama Bisnis* tersebut.

Semoga para sahabat Pejuang Pengusaha-Pengusaha Pejuang memaknai pesan ini sebagai refleksi pribadi. Perjalanan kita masih sangat panjang, walaupun usia hanya Allah SWT yang tahu. Ikhtiar terbaik adalah tugas utama kita. Hasil terbaik adalah anugerah dari Allah SWT karena Rahmat Nya.
Salam
Cecep Ernanto

Learning Centre
Kewirausahaan Masyarakat
HOLISTIKA INSTITUTE

#cecepernanto
#holistikainatitute
#desapreneurmadani

Politik hard core di medsos ini membuat ruang publik penuh sentimen politik.

Politik hard core di medsos ini membuat ruang publik penuh sentimen politik.
Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Anto Sudarto, Dosen Komunikasi Politik Universitas Tarumanagara

Elisabeth Noelle-Neumann (1977) dalam teorinya, Spiral of Silence, mengenai proses pembentukan opini publik menyatakan orang cenderung menyesuaikan opini pribadinya dengan opini dominan yang berkembang agar tidak dikucilkan di lingkungan sosialnya. Terkecuali, bagi kelompok hard core dan avant garde.

Mereka adalah orang-orang yang tak khawatir terhadap isolasi sosial. Kelompok hard core memiliki sikap ekstrem, sedangkan avant garde adalah para pencerah kehidupan.

Dalam konteks politik di Indonesia, hard core politik adalah ekstrem partisan salah satu capres, yaitu pendukung fanatik Jokowi atau Prabowo. Sikap politik mereka tidak tergoyahkan walaupun mendapat tekanan dari lingkungan sosial.

Avant garde politik merupakan orang-orang independen yang bersikap kritis terhadap rezim manapun. Mereka tak khawatir disudutkan. Namun, di media sosial (medsos), kita lebih banyak melihat hard core politik.

Dalam disertasi penelitian penulis, “Proses Difusi Berita Politik dan Pembentukan Opini Publik di Era Media Sosial”, penulis menemukan banyaknya individu ekstrem partisan yang berani mengekspresikan opininya di lingkungan “lawan”.

Mereka diinterpretasikan sebagai hard core karena tidak mengembangkan diskusi politik, tetapi lebih mengekspresikan sentimen partisannya di medsos. Sebagian besar berperilaku sebagai slacktivism, yaitu orang yang hanya rajin mem-forward dan reshare posting-an orang lain, tetapi tidak bertanggung jawab atas postingannya itu. Hard core politik subur di dunia maya yang memiliki psikologi komunikasi sendiri.

Mengacu Patricia Wallace (2016) dalam bukunya, The Psychology of Internet, perilaku ekstrem di dunia maya terjadi karena tingkat anonimitas yang tinggi (pengaburan identitas) dan tingkat kesadaran diri yang rendah (siapa diri kita di mata anggota lain). Pemicu lainnya, persepsi jumlah audiens (tidak sadar jika ekspresinya di media sosial diperhatikan orang banyak) dan merasa berada di kumpulan yang memiliki sikap politik sama (tidak sadar jika postingannya mungkin menyinggung anggota lain).

Selain hard core politik, ada pula istilah politik hard core yang merupakan kebijakan suatu kelompok politik dalam menggunakan jasa hard core politik untuk memengaruhi opini publik.

Para hard core politik membuat konten-konten berupa infografis, meme politik, cicitan, dan narasi politik sesuai kandidat yang didukung. Mereka senantiasa memantau percakapan di media sosial dan komentar di berita daring.

Mereka melakukan kontra opini dengan berpartisipasi langsung dalam diskusi daring atau membuat bantahan berupa klipingan berita atau data yang sistematis. Politik hard core di Indonesia, menurut catatan penulis, dimulai sejak Pilkada DKI 2012.

Saat itu, tim Jokowi-Ahok mengorganisasi lebih dari 10 ribu relawan ke dalam Jokowi Ahok Social Media Volunteer (Jasmev). Mereka dapat dikategorikan buzzer yang mempromosikan keunggulan calon yang didukung dan menunjukkan kelemahan kandidat lawan.

Mereka berkontribusi mengantarkan Jokowi-Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Keberhasilan Jasmev memacu semua tim sukses melakukan politik hard core. Pada Pilpres 2014, baik kubu Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta, melakukan politik hard core dengan merekrut buzzer dan membuat portal opini, yang seakan-akan sebagai portal berita.

Politik hard core berkembang pada Pilkada DKI 2017 dengan menguatnya peran bloger politik sebagai opinion leader. Menjelang Pilpres 2019, politik hard core masih mirip situasi Pilkada 2017, tetapi dengan jumlah bloger yang kian besar.