Respon Ketua DPR RI Atas Isu-isu Aktual, Rabu (31/10/18

SULAIMAN, ST

Respon DPR-RI, kiranya menjadi panduan kebijakan atas masalah aktual, yang sesungguhnya perlu ditangani segera oleh pemerintah melalui kebijakan kebijakan pro rakyat.

DPR-RI, merespon secara cepat, apabila di sambut dengan cepat dan tepat sasaran oleh pemerintah maka permasalahan aktual yang ada dapat ditangani secara baik dan menjawab permasalahan di masyarakat, semoga indonesia jaya….Aamiin

Selanjutnya Respon Ketua DPR RI Atas Isu-isu Aktual, Rabu (31/10/18)

1. Terkait eksekusi mati yang dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka, Tuti Tursilawati pada (29/10), Ketua DPR:

a. Menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang telah ditinggalkan dan menyampaikan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan;
b. Mendukung upaya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dalam hal memprotes eksekusi yang dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi tanpa ada pemberitahuan, serta meminta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk meninjau ulang rencana pemberangkatan TKI ke Arab Saudi;
c. Mendorong Kemenlu, Kemnaker, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Migrant Care Indonesia, dan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk selalu memberikan perlindungan dan pendampingan hukum bagi TKI yang bermasalah dengan hukum setempat secara maksimal;
d. Mendorong Kemnaker dan Kemenlu untuk dapat memberikan pembelaan dan negosiasi yang maksimal agar TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi mendapat keringanan hukuman atau dapat dibebaskan dari hukuman mati;
e. Mendorong Kemnaker dan BNP2TKI mewajibkan PJTKI bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memberikan pembekalan yang maksimal baik dalam hal bahasa, keterampilan, pengetahuan tentang hukum di negara tujuan, dan cara bersikap, serta pengarahan apabila mendapatkan masalah saat bekerja kepada TKI yang akan diberangkatkan ke negara tujuan;
f. Mendorong Kemnaker dan BNP2TKI untuk meningkatkan pengawasan terhadap PJTKI agar TKI yang dikirim telah memenuhi kriteria dan standar yang sesuai dengan Negara tujuan;
g. Mendorong Kemnaker untuk memperluas pembuatan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Negara-Negara tujuan, agar dapat memperkuat pengawalan keamanan bagi TKI oleh Pemerintah Indonesia di Negara-Negara tersebut;
h. Mendorong Kemenlu melalui Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI), Kemnaker, bersama BNP2TKI untuk terus melakukan negosiasi bilateral ke Negara-Negara tujuan TKI agar dapat tercipta sistem tata kelola dan perlindungan TKI yang lebih baik.

2. Terkait kecelakaan maskapai Lion Air JT-610 (29/10) dan rekam jejak maskapai penerbangan tersebut serta data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang menyebutkan terdapat 317 kasus kecelakaan penerbangan telah terjadi selama satu satu dekade terakhir (2007-2017), Ketua DPR:
a. Mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk memberikan sanksi sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku kepada maskapai penerbangan Lion Air jika terbukti terdapat kelalaian dari pihak maskapai, dan petugas yang memberikan ijin terbang pesawat tersebut.
b. Mendorong Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sebagai regulator untuk mengoptimalkan pelaksanaan ramp check (pemeriksaan kelaikan pesawat) setiap sebelum melakukan penerbangan, serta meminta kepada seluruh maskapai penerbangan untuk meningkatkan pemeliharaan (maintenance) terhadap pesawat;
c. Mendorong Kemenhub dan KNKT secara bersama untuk melakukan evaluasi terhadap peristiwa kecelakaan-kecelakaan pesawat yang telah terjadi, agar ke depannya dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan pesawat;
d. Mendorong Kemenhub mendorong seluruh maskapai penerbangan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan mutu, baik SDM (Sumber Daya Manusia), manajemen, maupun pesawat yang akan digunakan sebagai transportasi penerbangan;
e. Mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk selalu menginformasikan kondisi cuaca terkini kepada Air Traffic Control (ATC) dan pilot pesawat;
f. Mendorong Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPB) untuk memfokuskan pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat di titik koordinat yang sudah diketahui;
g. Mendorong pihak Jasa Raharja untuk tepat waktu dan tepat sasaran dalam memberikan santunan kepada keluarga korban maskapai penerbangan Lion Air JT-610, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang sudah diputuskan dalam Sidang Paripurna menjadi RUU Inisiatif DPR dan akan dibahas di Komisi VIII DPR, Ketua DPR:
a. Mendorong Komisi VIII DPR untuk membuka seluas-luasnya partisipasi masyarakat dalam pembahasan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, mengingat pesantren dan madrasah tidak hanya berkontribusi besar bagi pendidikan, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan akhlak bangsa Indonesia;
b. Mendorong Komisi VIII DPR untuk mengkaji permasalahan yang terkait:
1) Penormaan secara aplikatif terkait dengan pengembangan 3 (tiga) peran pesantren sebagai lembaga pendidikan, sebagai lembaga penyiaran ajaran agama (dakwah Islam), dan sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat;
2) Pengaturan mengenai pendirian pesantren bersifat fleksibel, tidak dibatasi pengakuannya hanya berdasarkan legal formal semata, karena terdapat 28 ribu lebih pesantren yang sebagian besar masih berbentuk salafiyah;
3) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya berkewajiban mengalokasikan pendanaan dalam penyelenggaraan Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.
c. Mendorong Komisi VIII DPR memperhatikan kritik dari berbagai pihak, salah satunya Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). PGI keberatan atas beberapa pasal yang mengatur kegiatan ibadah sekolah minggu dan katekisasi oleh gereja hingga izin yang harus dikeluarkan oleh Kementerian Agama, mengingat pendidikan agama tidak hanya agama islam, tetapi di dalamnya mengatur juga pendidikan agama Kristen, pendidikan agama Katolik, pendidikan agama Hindu, agama Budha, dan Konghucu. *(Bamsoet)*

Iklan

Rekam Jejak di jejaring Sosial

http://

Rekam Jejak di jejaring Sosial

SULAIMAN,ST (KETUA IKA STT-GARUT)

Membaca tulisan Prof.Dr.Reinald Kasali, Guru besar universitas Indonesia, Pendiri rumah perubahan. dengan judul digital footprint, teknologi yang sedang dikembang di tiongkok, teknologi yang mencoba mengungkap social score para pengguna media social, kira kira bisa disimpulkan demikian.

Mencoba menggambarkan social score dengan postingan dan komen yang kita tulis setiap hari, sederhananya yang saya pahami bahwa, apabila setiap hari kita memproduksi kalimat negatif maka social score kita jadi rendah, artinya kita sedang berada pada titik terendah keadaban kita hubungan dengan orang lain, dan apabila social score bernilai positif, maka social score kita tinggi.

Tentunya bonus bagi yang selalu berbuat baik pasti ditambahin rizkynya oleh Alloh SWT. Kalau kita lakukan dgn pendekatan bahasa agama islam. Social score menjadi hukuman social terhadap individu tertentu yang menyebarkan hal hal negatif di media sosial. Pertanyaanya kenapa penggiat teknologi digital mencoba membuat digital footprint???

Sebelumya perlahan kita mengurai soalan digital footprint, kita mencoba melakukan pendekatan cerita dari kawanku…

Kawanku sebut saja namanya andra, dia mengatakan bahwa hampir setiap hari buka media sosial tapi aku tidak pernah komen dan like, hanya ingin melihat pesan inbox dari kawannya.

Lain lagi dengan cerita kawan kita, dana sebut saja namanya demikian, dana biasanya rajin komen dan like namun setahun terakhir katanya sangat jarang sekali membuka media sosial. Dari penggalan cerita tersebut kita bisa mengurai dari berbagai sudut pandang bagi pengguna media sosial, sebagai berikut :
1. menafsirkan kembali tujuan kita menggunakan media sosial, proses
penafsiran kembali tujuan ini akan memberikan dorongan motivasi terhadap manfaat yang akan kita raih di kemudian hari, misalkan berbisnis di fb, ig dan lainya, akan terdorong oleh hasil yang akan di raih.
2. Penggunaan medsos kerena memiliki Motivasi dan kemauan kuat dari Komunitas sosial yang memiliki aktifitas kerja nyata misalkan membantu fakir miskin dan lainya, kegiatan amal pengumpulan dana untuk pembangunan masjid dan lainya.
3.menggunakan media sosial untuk kepentingan positif lainya, sehingga memiliki semangat lebih dalam melakukan aktifitas sosial lainnya.

Dorongan untuk menafsirkan kembali tujuan bermedsos akan terasa penting untuk menjaga social score yang kita peroleh dimasa yang akan datang, bermedsos pada masa kini, kita akan berhadap hadapan dengan berita hoaks, sesungguhnya menuntun adrenalin kita pada ruang perdebatan kosong, tanpa value karena kebenaran di sembunyikan oleh penyebar hoaks.

Menulis di blog menuntun diri pada value.

Mungkinkah ada kejenuhan dari para pihak penggiat teknologi digital memaknai fenomena bermedsos, sehingga menciptakan digitalfootprint untuk menelusuri social score pengguna medsos, yang patut kita sanjungi bahwa teknologi ini setidaknya mampu mengisi ruang kosong yang jauh dari jangkaun regulasi negara misalkan UU ITE dll. Juga dapat meminimalisir kebenaran tersembunyi di medsos.

Blog gratis menjadi pilihan komunitas yang mencoba menuntun diri pada proses pencarian mendekatkan diri kepada value, mengungkap tabir ruang kosong yang menyembunyikan kebenaran, sehingga kita menjadi individu dan komunitas mempersiapkan diri untuk berselancar diruang kosong tanpa value dengan membawa ide gagasan perubahan dengan pendekatan yang sistematis dengan penajaman narasi – narasi berkualitas baik dan berkeadaban. Mari kita bermedsos untuk kebaikan.

wassalam

Semangat Gotong Royong Warga di desa Cintanagara

Semangat Gotong Royong Warga di desa Cintanagara.

Giat gotong royong warga desa

Semangat Gotong royong yang tumbuh subur seperti bunga yg terus mekar dan terawat dengan baik ditengah masyarakat kita, mang unde dari kp lio, salah satu penggiat kegiatan gotong royong di desa cintanagara menuturkan, bahwa gotong royong yang sering dilakukan berkaitan dengan keadaan lingkungan tempat tinggal biasanya silaksanakan dipenghujung musim kemarau, misal tentang lingkungan bersih, bangun rumah tidak layak huni dan lain sebagainya, lalu kenapa irigasi baranangsiang menjadi target gotong royong warga kali ini, mang unde, menegaskan bahwa menjadi kebiasaan masyarakat melaksanakan kegiatan dengan cara gotong royong pada fasilitas umum yang membutuhkan penanganan cepat, seperti irigasi ini.

Selanjutnya mang unde, menuturkan bahwa, semangat yang ditunjukan sekira 300 warga dengan gotong royong masyarakat RW.07 Desa Cintanagara Kec. Cigedug di Irigasi Baranangsiang pada hari ahad, 14 Oktober 2018 yang telah lalu, sebagai langkah antisipasi ancaman longsor atau robohnya tanggul irigasi karena telah terjadi retakan sepanjang -+60M hingga mengakibatkan air bocor dan tidak terkendali yang mengalir keluar dari jalur irigasi, mang unde menambahkan langkah yang kami lakukan hanya bersifat sementara, butuh langkah cepat dari pemerintah daerah dan dinas terkait untuk perbaikan tanggul irigasi tersebut.

Kepala UPT PUPR wilayah cigedug di hubungi via telp, membenarkan bahwa giat gotong royong warga dalam Penanganan sementara dengan menggunakan karung berisikan tanah guna penguatan tanggul yang terjadi ancaman roboh di H.M 60, Irigasi baranangsiang blok kp lio desa cintanagara kec. cigedug.(**Jh**)

DIGITAL FOOTPRINT PARA PENYEBAR HOAX

Beberapa waktu lalu, sejumlah eksekutif datang ke Rumah Perubahan, mereka berkeluh kesah tentang program strategis pemerintah yang sulit dijalankan. “Banyak yang mengganggu,” ujarnya.

Kami lalu sama-sama membuka jejak-jejak digital “para pengganggu” tadi. Staf-staf saya yang masih sangathi hi muda berhasil memetakan siapa saja geng pengganggu itu, kata-kata kuncinya, serta media-media yang mereka gunakan.

Dan yang mengejutkan, ternyata ada orang dalam yang bermasalah yang terlibat.

Mempelajari motif dan pola penyebaran hoax di era ini sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Saya masih ingat saat mengalami serangan orang-orang tertentu terkait penjelasan saya tentang disruption dan sharing economy.

Bukannya beradaptasi dengan perubahan, usahawan yang bisnisnya terganggu memilih untuk menyewa jasa para penebar hoax. Dan jangan lupa, mereka bekerja tidak sendirian. Ada yang mengorkestrasinya.

Social Score

Suatu siang di sebuah ruang kecil di Bursa Efek Indonesia (BEI), saya berbincang dengan direktur utama BEI periode yang lalu. Dia bertanya apakah saya pernah membeli saham. Stafnya kemudian mengetik nama di komputer, dan begitu diklik, langsung keluarlah cabang-cabangnya.

Terus terang saya agak takut juga membaca peta data saya. Tapi, alhamdulillah tak begitu punya banyak masalah. Lalu, iseng-iseng saya minta dimasukkan nama seorang politisi yang “berisik”.

Lalu, muncul saham-saham yang dikuasai serta statement yang mereka ucapkan. Saya jadi mengerti mengapa mereka melakukan tekanan-tekanan pada pemerintah, mempersoalkan infrastruktur dan utang BUMN. Rupanya, ada saham di belakangnya.

Data-data itu saya kira juga bisa dihubungkan dengan putusan-putusan hukum di Mahkamah Agung atau laporan-laporan di kepolisian. Tentu juga bisa dihubungkan dengan data-data digital lainnya.

Ngeri memang. Di satu sisi, digital footprint (jejak digital) bisa memberikan rasa aman di mana pelaku-pelaku kejahatan dan penebar hoax menjadi mudah ditangkap. Namun, di lain pihak, data-data dan kebiasaan-kebiasaan kita bisa juga disalahgunakan pihak lain.

Dulu, data perbankan hanya dimiliki bank itu. Tapi, kini disimpan ke dalam cloud, dan muncul open bank yang didasari oleh apps, APIs (application program interface), semua saling terhubung, dan bisa dianalisis dengan sistem big data.

Beberapa tahun lalu, teman saya, seorang CEO bank asing, menolak kredit seorang nasabah yang diperkenalkan seorang pejabat. Jumlah kreditnya besar sekali. Kawan saya hanya mengajukan satu pertanyaan, lalu ia permisi sebentar.

Permintaan orang itu ditolak. Tapi, orang itu kemudian mengajukan kredit ke salah satu bank nasional dan di-approve. Beberapa waktu kemudian, kami mendengar nasabah itu terlibat fraud dan lari ke luar negeri.

Sewaktu saya tanyakan kepada CEO bak asing tersebut, mengapa dulu dia menolak pengajuan kredit orang itu, rekan saya menjawab pendek, “Orang itu memang tidak bisa dipercaya.”

Tahu dari mana? Credit score memang bukanlah hal yang baru bagi perbankan. Tapi, kini bank punya cara yang lebih jitu mempelajari jejak tapak digital calon-calon nasabahnya yang bermasalah.

Di Tiongkok, hari-hari ini masyarakat sedang mendiskusikan tentang social scoring yang bukan sekedar mencatat angka. Melainkan juga segala digital footprint masyarakat. Data-data itu ditangkap melalui CCTV, websites, GPS, data keuangan, kesehatan, sampai belanja, dan konsumsi yang kita lakukan.

Jadi, setiap digital footprint pasti masuk ke score kita. Orang yang sering konsumsi alkohol, terlibat hukum, menyebarkan hoax, dan seterusnya akan punya akibat sendiri. Mereka yang social score-nya tinggi bisa mendapatkan banyak kemudahan, semisal diterima di perguruan tinggi atau mendapat seat untuk nonton. Sementara yang social score-nya rendah, sebaliknya.

Digital Footprint

Sewaktu seorang mantan pejabat kehilangan HP-nya di bandara, saya dengan cepat mengatakan, pasti ketemu. Tak perlu sampai 24 jam. Dan benar saja, malam harinya pengambil ponsel sudah ditemukan di Jakarta Timur.

Kok bisa? Harap Anda maklum di Bandara Soekarno-Hatta, hampir tak ada tempat yang tak terpantau sensor digital dan kamera CCTV. Dengan bantuan petugas aviation security Angkasa Pura (AP) II, polisi menjadi lebih mudah menelusuri jejak-jejak digital pelaku kejahatan.

Karena itu, ketika beberapa hari lalu hoax yang dibuat seorang public figure yang mengaku menjadi korban penganiayaan di Bandung beredar, sambil tersenyum saya berpikir ini tinggal tunggu waktu saja.

Siapa pelakunya dan kebenarannya pasti akan terungkap. Apalagi, orang yang mengaku korban adalah sosok yang dikenal publik. Dan, hampir semua rumah sakit dan tempat-tempat yang dikunjungi, semisal rumah sakit dan bandara, sudah dilengkapi digital camera.

Penulis di bidang teknologi data Priyanka Gupta, juga Seth Stephens-Davidowitz penulis buku best seller Everybody Lies, mengatakan bahwa dengan teknologi, kini sudah tak lagi sulit untuk membuka “kedok” kebohongan.

Demikian pula politikus-politikus yang garang dan gemar merampok uang masyarakat, sekalipun menggunakan jubah kealiman tertentu, akan sangat mudah ditaklukkan ketika digital footprint-nya disajikan kepada publik. Jejak itu, jangankan dilihat orang lain, ditonton diri sendiri saja belum tentu mereka mau.

Bukankah manusia selalu menyembunyikan perilaku-perilaku aslinya yang memalukan? Mereka ingin terlihat sempurna sehingga mengalami social desirability bias.

Seth Stephens-Davidowitz yang menambang data di Google selama 4 tahun melabeli orang-orang yang bias itu sebagai pembohong. Aktor tertentu memang munafik, bahkan tentang kebohongannya sendiri.

Tetapi, mengapa zaman sekarang ini polisi menjadi begitu mudah mengetahui kebohongan-kebohongan itu? Jawabannya adalah karena manusia sendiri yang ceroboh dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang tak pantas.

Celakanya, masyarakat senang menipu diri sendiri sepanjang mereka mendapatkan keuntungan atau kepuasan-kepuasan batin. Namun, di era ini, kemampuan berpikir kritislah yang akan menyelamatkan manusia dari perbuatan-perbuatan jahatnya dan kembali dalam nilai-nilai agama yang dianutnya.

Yaitu, nilai-nilai kebaikan, toleransi, pertolongan, dan kembali dalam ibadah-ibadah yang hakiki. Bukan yang dimanipulasi. Sepertinya, teknologi digital telah menghanyutkan nilai-nilai agama dan kebaikan ke dalam lembah ilusi tentang kehebatan diri masing-masing.

*Renald Kasali*
*) Guru Besar Universitas Indonesia, Founder Rumah Perubahan

Paradigma Lama VS Paradigma Baru

Membuat daya ungkit untuk menerima paradigma baru yang berkembang dengan pola pendekatan yang lebih efektif arif, bijaksana, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, berbagai kejadian yang dialami harus menjadi evaluasi serius dalam mengahadapi situasi kondisi kekinian dan masa depan, kita akan berjaya dimasa depan kalau kita mampu mendesain sistem kaderisasi yang mengarah pada tujuan yang hendak di capai dimasa yang akan datang…

Paradigma baru butuh cara dan pendekatan baru yang lebih efektif dalam memangkas mata rantai kendali artificial yang sesungguhnya mubazir bila dipertahankan sebagai organisasi moder dengan orientasi pada pencapain tujuan dalam membangun tata kelola yang lebih baik, akan menghasilkan kader kader yang memiliki value dimata rakyat.

Saatnya evaluasi partisipatif dalam mencapai tujuan organisasi…

Di bawa ini merupakan ringkasan perbandingan antara paradigma lama dan paradigma baru…insya Alloh lebih sejuk, dinamis dan bermartabat…

MEWASPADAI JALAN KEKERASAN POLITIK ISLAM VERSI TIMUR TENGAH

MEWASPADAI JALAN KEKERASAN POLITIK ISLAM VERSI TIMUR TENGAH

1. Sejak masuknya agenda islam politik trans nasional ala Timur Tengah yang bertumpu pada perjuangan politik merebut kekuasaan dengan menggunakan simbol-simbol agama untuk memanipulasi umat, maka wacana dan wawasan dalam memahami islam menjadi semakin sempit, rigid dan kaku.

2. Di media sosial yang menjadi medan pertempuran politik dunia maya diwarnai dengan ekspresi kebencian, permusuhan, hasutan, fitnah dan hoax.

3. Setidaknya ada 4 strategi yang dilakukan oleh kelompok islam politik trans nasional menghadapi tahun politik 2019.

4. Strategi pertama yang ditempuh oleh islam politik tran nasional adalah membenci pemerintah, menjadikan alat negara sebagai musuh, seluruh kebijakan penguasa dianggap keliru, partai-partai koalisi pendukung pemerintah dianggap penjilat. Sikap ini setiap hari digelorakan kepada umat dan dipublikasi melalui media sosial dengan bumbu ayat dan hadis.

5. Strategi kedua, adalah menurunkan tingkat kredibilitas ulama yang betul-betul ulama, tapi tidak sepaham dengan perjuangan politik mereka. Siapapun ulama yang tidak mengikuti arus pemikiran politik mereka maka dianggap ulama su’ (ulama jahat), ulama yang harus di jauhi dan diserang dengan berbagau macam hoax.

6. Sedangkan orang-orang biasa yang tingkat keilmuan agamanya rendah bisa dinobatkan sebagai ulama atau ustadz selama mereka memiliki pandangan yang sama dengan garis perjuangan politik mereka.

7. Ketika ulama yang benar-benar memiliki kapabilitas dan akhlak sebagai seorang ulama dihancurkan karakternya, maka para aktivis islam politik ini akan mudah menguasai opini publik dan mengontrol umat melalui fatwa-fatwa agama yang disesuaikan dengan kepentingan politik mereka.

8. Strategi ketiga adalah meminta bantuan kekuatan asing untuk melakukan manuver dan intervensi disaat terjadi kekacauan. Bantuan asing bisa berupa pendanaan (finansial) dan pengiriman milisi atau kelompok sipil bersenjata.

9. Strategi keempat adalah memecah umat dalam dua arus, pertama umat yang mendukung kepentingan politik islam trans nasional dan kedua umat yang tidak mendukung kepentingan politik islam.

10. Pembelahan umat dalam dua kubu dimaksudkan untuk mengukur kekuatan pendukung dan kekuatan lawan.

11. Jika kristalisasi dukungan terhadap islam politik semakin besar maka mereka akan menempuh dua cara, pertama, cara konstitusional dengan cara melakukan perubahan rezim melalai pemilu dan kedua, menempuh cara revolusi atau menggulingkan kekuasaan melalui kekerasaan.

12. Konsekwensi dari kekerasan politik adalah perang saudara, chaos, negara hancur, ancaman pemisahan (sparatis), jatuhnya korban sipil serta munculnya berbagai macam problem sosial serta kemanusian.

13. Bagi kelompok islam politik trans nasional menegakkan sistem pemerintahan islam dan penerapan syariat islam merupakan suatu kewajiban. Dua tujuan politik ini harus diperjuangkan meskipun ambisi tersebut harus berakhir dengan kehancuran negara.

14. Inilah barangkali catatan mengerikan yang bisa kita lihat dari perkembangan Islam politik di negara-negara Timur Tengah seperti Irak, Libia, Syria dan Yaman.

15. Kecurigaan mengenai masuknya elemen islam politik trans nasional ditengah perhelatan pilpres 2019 sangat terasa. Aura kebencian dan perpecahan yang didesain untuk membuat gangguan stabilitas dan kekacaun begitu dekat kita rasakan.

16. Jika tidak diwaspadai, kondisi gerakan islam politik trans nasional di Indonesia akan melaju kencang tanpa kontrol dan perlahan-lahan menabrak apa saja termasuk menabrak konstitusi, menabrak, falsafah bernegara, menabrak sistem politik serta menabrak islam sendiri, sebagai agama dan norma yang moderat.

17. Ditengah kekeringan wacana keagamaan yang moderat dan humanis, maka tak ada salahnya bagi kita untuk kembali pada cara pandang guru bangsa kita yaitu Gus Dur dalam mengharmoniskan hubungan antara agama dan negara.

18. Gus Dur membawa agama melalui tiga pendekatan yang sangat luas dan fleksibel.

Pertama, Pendekatan filosofis, makna dari agama itu sendiri. Tidak sekedar teks dari agama itu.

Kedua. Etis, agama ditampilkan sebagai nilai-nilai kesopanan universal.

Ketiga, Humanis: menghadirkan agama sebagai persaudaraan kemanusian yang utuh.

19. Ketiga pendekatan ini mengalahkan pendekatan legal formal atau hukum-hukum fikih, tetapi selalu mencari alternatif apa yg sebaiknya baik utuk manusia.

20. Gus dur bertumpu pada esensi agama bukan pada hukum legal formal agama.

21. Yang tidak dilepas oleh gus dur adalah teologi. Tapi wujud dari teologi itu harus tampil dalam bentuk etika, humanisme dan folosofi.

22. Jika 3 Pendekatan yang dilakukan oleh Gus Dur ini diletakkan pada konsepsi hubungan antara agama dan negara atau antara islam dan politik, maka hubungan keduannya akan harmonis dan tidak menimbulkan ketegangan.

23. Kultur politik Indonesia tidak sama dengan kultur politik Timur Tengah, meski pengaruh pemikiran politik islam sama-sama kuat di kedua wilayah ini, akan tetapi perbedaan budaya dan karakter masyarakat menjadi alasan kenapa politik di Timur Tengah berbeda dengan politik di Indonesia.

24. Berkaca dari pengalaman negara-negara Timur Tengah yang dihancurkan oleh prilaku politik yang berlandaskan pada penafsiran teks-teks agama yang sempit, kaku dan menghalalkan kekerasan maka saatnya seluruh komponen bangsa menyadari bahwa bekerjasama dengan kelompok ini akan mengakibatkan Indonesia menuju pada masa depan yang suram serta jatuh dalam jurang kehancuran.

Wallahu a’lam.

Khariri Makmun
Peneliti Institute Hasyim Muzadi (IHM)
Direktur Moderation Corner

http://www.muslimedianews.com/2018/10/mewaspadai-jalan-kekerasan-politik.html