Mencintai Rasululloh

*MENCINTAI BAGINDA ROSULULLOH ﷺ DENGAN MENGENALI AKHLAK MULIA ROSULULLOH ﷺ*

1. Baginda selalu diam.

2 . Berbicara ketika perlu.

3. Perbicaraannya fasih, ringkas tetapi padat .

4. Menghadapkan seluruh tubuhnya bila berbicara dengan seseorang.

5. Hatinya selalu sedih (inginkan umat dalam kebaikan dan terlepas dari azab الله swt).

6. Selalu menundukkan pandangan kerana tawaddu’.

7. Berfikir terus-menerus.

8. Menghargai nikmat sekecil apa pun tanpa memperlekehkannya.

9. Tidak pernah mencela makanan. Apabila suka, Baginda akan makan. Jika tidak, ditinggalkannya tanpa mencelanya.

10 . Tidak pernah marah yang ada kaitan dengan urusan dunia.

11 . Marah bukan kerana nafsu.

12 . Apabila kebenaran dipermainkan, Baginda akan bangkit untuk berusaha mempertahankannya.

13 . Apabila marah Baginda akan memalingkan muka.

14 . Apabila suka Baginda akan memejamkan mata.

15 . Tidak pernah berkata kotor, berbuat keji dan melampaui batas.

16 . Tidak pernah berteriak-teriak di pasar.

17 . Tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Malah Baginda memaafkan & berlapang dada.

18 . Tangan Baginda tidak pernah memukul selain untuk berjihad dijalan الله swt.

19 . Apabila menghadapi dua perkara Baginda memilih yang paling mudah selagi ia bukan dalam perkara ma’siat.

20 . Di rumah, Baginda adalah manusia biasa yang membasuh pakaian, memerah susu & membuat sendiri segala keperluan diri.

21 . Ketika duduk atau pun berdiri, Baginda selalu berzikir.

22 . Raut wajahnya selalu ceria, perangainya dapat dicontohi dengan mudah, lemah lembut & peramah.

23 . Tidak pernah bersikap keras dan bertindak kasar, berteriak-teriak, lebih-lebih lagi mencela orang lain.

24 . Tiga perkara yang dijauhi; perselisihan, sombong & segala yang tidak diperlukan.

25. Tidak pernah mencela & memaki keturunan orang lain.

26 . Tidak pernah berbicara kecuali sesuatu yang menjanjikan pahala.

27 . Perbicaraannya memukau siapa pun yang mendengarnya lalu terpegun seolah-olah ada burung melintas di atas kepala mereka.

28 . siapa yang melihat Baginda sepintas lalu akan merasa gerun & hormat terhadapnya.

29 . siapa yang selalu bergaul & telah dekat mengenali Baginda, akan menyayanginya sepenuh jiwa raga.

30 . Baginda pasti memberi tempat kepada orang yang ingin duduk & tidak membedakan di kalangan mereka.

31 . siapa yang meminta sesuatu, pasti dipenuhinya atau jika sebaliknya ditolak dengan tutur kata yang lemah lembut.

32 . Tangan Baginda selalu terbuka kepada sesiapa sahaja tanpa pilih kasih. Baginda adalah ayah bagi mereka semua.

33 . Di mana pun Baginda berada, di situ terpancar cahaya ‘ilmu, sikap malu & shobar serta amanah.

34 . Tidak ada yang berani meninggikan suara di hadapan Baginda kerana kewibawaan Baginda.

35 . Semua mengakui keutamaannya kerana ketaqwaannya ; menghormati orang tua, menyayangi yang kecil, mengutamakan orang yang ada hajat, menjaga keperluan & kebajikan orang asing.

36 . Tidak terus memotong percakapan orang lain. Jika ingin memotong, Baginda hentikan dahulu atau pun berdiri.

37 . Paling berlapang dada.

38 . Paling tepat dalam berbicara.

39 . Paling halus keperibadiannya.

40 . Paling ramah & beradab dalam pergaulan & muamalahnya.

Perbanyakkan Sholawat pada Nabi..dengan mengikuti aturan2Nya yg telah dicontohkan,,

Iklan

ISLAM SIMBOLIK DAN ISLAM SUBSTANTIF:

ISLAM SIMBOLIK DAN ISLAM SUBSTANTIF:
Problema Nilai Islamisitas dalam Politik Indonesia

Oleh: Al Chaidar

(Serial tulisan membahas esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi)

“Saya pergi ke Barat dan melihat Islam, tetapi tidak ada orang Muslim; Saya kembali ke Timur dan melihat orang Muslim, tetapi tidak ada Islam. ”
(Mohammad Abduh)

Menarik membaca tulisan Denny JA, “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” Tulisan Denny JA ini membahas tema lama yang tetap aktual hingga kini. Banyak perdebatan akademis dan kontestasi politik di belakang tema faktual ini. Syariah atau negara Islam atau khilafah adalah jargon politik yang sering diusung oleh banyak aktivis, namun sedikit sekali elaborasi ilmiahnya.

Banyak aktivis Muslim yang mengusung tema syariah, negara Islam atau khilafah, namun berperilaku jahiliyah, menikmati darul harb yang konfliktual dan lebih yakin pada lembaga dunia seperti PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun para aktivis tersebut umumnya lupa mempersiapkan kerangka konseptual yang cukup ketika berhadapan dengan aktivis lainnya yang lebih siap dengan fakta, data, dan metodologi. Bahkan seringkali para aktivis ini bertingkah paradoks ketika tersudut secara ilmiah.

Inilah yang kemudian menjadi titik lemah yang dibidik Denny JA terhadap Habib Rizieq Shihab dengan ide negara syariahnya.

Denny JA menyandarkan idenya pada tulisan Rehman dan Askari (2010) yang membahas betapa negara-negara Muslim dan juga negara-negara Islam ternyata jauh dari nilai-nilai Islam. Nilai Islam adalah suatu perangkat keyakinan beragama ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas, yang memberikan corak khusus kepada pola pemikiran, etos, keterkaitan maupun perilaku yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Askari dan Mohammadkhan (2017) telah meneguhkan metodologi yang dinamakan Islamicity Index (Indeks Islamisitas) yang merupakan seperangkat nilai atau suatu pola normatif, yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya dengan seperti keadilan, kemakmuran, pemerintahan yang bersih, penghormatan pada manusia dan lain sebagainya.

Hasilnya adalah New Zealand, Swiss, Norwegia dan Irlandia sebagai negara yang paling “Islami” dilihat dari empat kategori: (1) economic Islamicity, (2) legal and governance, (3) human and political rights, dan (4) international relations.

New Zealand, Swiss, Norwegia dan Irlandia bukanlah negara Islam, bukan juga negara Muslim, namun atmosfir di negeri tersebut terasa sangat Islami, suatu kesyahduan kultural yang harusnya terlihat di negara-negara Muslim dan negara-negara Islam.

Kondisi ini pernah dipotret secara empirik oleh Muhammad Abduh, “Saya pergi ke Barat dan melihat Islam, tetapi tidak ada orang Muslim; Saya kembali ke Timur dan melihat orang Muslim, tetapi tidak ada Islam.”

Indeks Islamisitas ini menjadi metode baru untuk mengukur nilai-nilai Islam yang aplikatif di beberapa negara. Nilai Islam merupakan kualitas empiris yang dapat didefinisikan, dan dapat dialami dan dipahami secara langsung, yang seharusnya ada di Arab Saudi atau negara-negara Muslim lainnya di jazirah Timur Tengah atau di Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Ternyata, nilai-nilai tersebut lebih rendah kualitasnya dibandingkan di negara-negara non-Muslim.
Indeks Islamisitas ini merupakan metodologi baru dalam melihat seberapa jauh sebuah negara sudah mengaplikasikan nilai-nilai luhur Islam ke dalam kebijakan publik.

Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, namun harus bisa dilihat dan diukur melalui benda konkret, data dan fakta, dan bisa dibuktikan secara empirik, tidak hanya soal penghayatan teologis yang dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.

Nilai-nilai agama Islam pada hakekatnya adalah kumpulan dari prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya di dunia ini, yang satu prinsip dengan lainnya saling terkait membentuk satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan.

Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization (Gibb, 1932: 12). Karena nilai-nilai Islam itu sangat abstrak dan debatable karena penafsiran yang berbeda-beda, maka banyak nilai-nilai Islam itu hanya sebatas nilai teologis saja, tidak menjelma hingga ke peradaban Islam yang maju seperti pada zaman Rasulullah Muhammad SAW di abad ke-7. Banyak Muslim sesungguhnya adalah para pendusta agama yang hanya sibuk dengan simbol esoterisme dan sengaja tidak mau berpikir inklusif.

Ide-ide Islam dalam politik banyak yang kandas dan tak mampu dipertahankan karena absennya penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah (Ulil Abshar-Abdalla, 2002). Dibutuhkan suatu kerja keras yang serius yang nyaris merenggut nyawa pencetusnya untuk adanya: suatu interpretasi untuk aksi (AE Priyono, 2008).

Habib Rizieq Shihab seharusnya memiliki tim yang mampu membuat suatu indeks negara syariah yang terdiri dari indeks maqashid (Syafii Antonio, 2012), indeks konstitusi Islam (Dawood Ahmed dan Moamen Gouda, 2015) dan indeks kinerja sosial Islam (Mehmet Asutay dan Astrid Fionna Harningtyas, 2015) agar idenya operasional dan bisa diaplikasikan pada aras politik yang disebut negara.

Tanpa itu semua, maka ide NKRI Bersyariah hanyalah sebuah ide demagog yang utopis, yang hanya mampu memberikan harapan-harapan politik yang kosong dan melompong.

Islam, kemodernan, dan keindonesiaan adalah kombinasi penting yang Nurcholish Madjid (2008) telah perlihatkan, betapa nilai universal membutuhkan spirit zaman (modernitas) dan apresiasi terhadap lokalitas (keindonesiaan) untuk bisa berbunyi. Jika Habib Rizieq Shihab tidak memiliki paradigma yang teguh, maka ide NKRI Bersyariah itu tidak akan mewujudkan Islam sebagai agama profetik di mana substansiasi nilai-nilai agama dalam ruang publik tidak terjadi (Masdar Hilmy, 2008).

Namun, berdasarkan aksi-aksinya di dalam peristiwa demonstrasi beludru yang sangat luar biasa (Aksi 411 dan 212 dan Reuni 212 di tahun 2017 dan 2018), di mana ia sanggup mengajak jutaan manusia berhimpun di Monumen Akal Sehat di jantung Jakarta tanpa merusak taman dan tidak menginjak rumput serta tidak membuang sampah, saya sangat yakin ia menjadi tokoh profetik yang revolusioner.

Bagi saya, Habib Rizieq Shihab perlu melakukan apa yang disebut Bahtiar Effendy (2011) sebagai transformasi gagasan menjadi praktik politik Islam di Indonesia dalam etos sosial, ekonomi, politik dan hukum. Habib Rizieq Shihab adalah tokoh yang sangat berani dalam mengutarakan ide-ide profetik Islam di tengah komunitas Muslim Indonesia yang sedang mengalami tekukan konservatif (conservative turn), yang terjerembab dalam keyakinan bumi datar, celana cingkrang, cadar, jenggot, eskapisme dan keengganan bertoleransi, dan penolakan terhadap ilmu pengetahuan secara akut.

Setidaknya ia perlu mempelajari apa yang dimaksud oleh Didin Hafidhuddin (2003) dengan Islam aplikatif. Atau, dia harus menghindari penggiringan dari kalangan populis Islam yang cenderung lebih suka cara-cara teror dan aksi-aksi intoleran.

Bagi saya, Habib Rizieq Shihab masih kurang radikal karena ia tidak memiliki ide original tentang negara nomokrasi Islam, yang menurut Thahir Azhary (1995) sebagai negara ideal atau negara siyasah diniyah dalam konsepsi Ibnu Khaldun (1849). Pengetahuannya tentang Kartosoewirjo yang pernah mendirikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat tahun 1949 juga sangat minim sehingga jika dipetakan, ia hanyalah tokoh pinggiran dalam proses revolusi Islam yang kini sedang berproses di Indonesia.

Pengetahuannya tentang Pancasila sangat bagus, namun tidak diimbangi oleh penguasaan pemahaman sejarah yang memadai tentang Piagam Jakarta, di mana negara multikultur ini pernah menolak eksistensi pluralisme hukum, nomokrasi. Posisi Habib Rizieq Shihab juga sangat krusial di tengah publik akademis yang belum bisa menerimanya jika ia tidak membaca buku Amri Marzali (2015) tentang antropologi dan kebijakan publik.

Konsekuensinya, ide-ide habib Rizieq Shihab hanya akan menjadi jargon politik belaka yang tidak akan pernah memenangkan hati dan jiwa rakyat Indonesia.***

Referensi

Abshar-Abdalla, Ulil. “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam.” Harian Kompas (Jakarta), 18 November (2002).

Ahmed, Dawood I., and Moamen Gouda. “Measuring Constitutional Islamization: The Islamic Constitutions Index.” Hastings International & Comparative Law Review. 38 (2015): 1.
Antonio, Muhammad Syafii, Yulizar D. Sanrego, and Muhammad Taufiq. “An analysis of Islamic banking performance: Maqashid index implementation in Indonesia and Jordania.” Journal of Islamic Finance 1.1 (2012).

Askari, Hossein, and Hossein Mohammadkhan. Islamicity Indices: The Seed for Change. Springer, 2017.

Asutay, Mehmet, and Astrid Fionna Harningtyas. “Developing Maqasid al-Shari’ah index to evaluate social performance of Islamic banks: a conceptual and empirical attempt.” International journal of Islamic economics and finance studies. 1.1 (2015): 5-64.

Azhary, Muhammad Thahir. Negara Hukum: Suatu Segi Tentang Prinsip-prinsip Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Negara Madinah dan Masa Kini. Jakarta: Kencana, 2007.

Denny JA, “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”

Effendy, Bahtiar. “Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, Democracy Project”, 2011: Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia. Vol. 1. Bukupedia, 2011.

Gibb, Hamilton Alexander Rosskeen, ed. Whither Islam?: A Survey of Modern Movements in the Moslem World. V. Gollancz, 1932.
Hafidhuddin, Didin. Islam aplikatif. Depok: Gema Insani, 2003.

Hilmy, Masdar. Islam profetik: substansiasi nilai-nilai agama dalam ruang publik. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Majid, Nurcholish. Islam, kemodernan, dan keindonesiaan. Bandung: Mizan Pustaka, 2008.

Marzali, Amri. Antropologi dan Kebijakan Publik. Jakarta: Prenada Media, 2015.

Priyono, A. E. Paradigma Islam: interpretasi untuk aksi. Bandung: PT Mizan Publika, 2008.

Rehman, Scheherazade S., and Hossein Askari. “How Islamic are Islamic Countries?.” Global Economy Journal 10.2 (2010).

*Al Chaidar adalah dosen di Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. (alchaidar@unimal.ac.id)

-000-

Tulisan Denny JA soal NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi dapat dibaca di https://www.facebook.com/322283467867809/posts/1919263768169763/

Tulisan lain yang menanggapi tulisan Denny JA:

1. Nurul H Maarif: Islam Mementingkan Sasaran, Bukan Sarana, dapat dibaca di https://www.facebook.com/322283467867809/posts/1945081572254649/

2. E. Fernando M Manulang: Ruang Publik Yang Manusiawi Bersama Pancasila: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/1946368205459319/

Sumber tulisan Al Chaidar: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/1947652021997604/

Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis

*Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis*

(Diambil dari laman Facebook yang ditulis oleh Andi Hakim)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156912083440502&id=779115501

Dua tokoh yang viral di lingkungan sosial media belakangan adalah Ahok yang kembali berkiprah ke politik dan Akbar Tanjung yang mengundang Jokowi di rumahnya.

Ahok yang dulu berkata parpol sarang koruptor kini mendatangi PDIP untuk berkarir di sarang tadi. Ini kali keempat dia berpindah partai dan baginya itu bukan persoalan. Kita masih ingat pada saat ia menyampingkan tawaran parpol untuk mengusungnya di pilkada DKI baru lalu. Alasan sarang koruptor dan enggan membayar mahar menjadi dalihnya. Aksinya dengan segera menyenangkan the so called kelompok relawan independen kawan Ahok. Ia memilih diusung lewat jalur independen.

Belakangan setelah para independent tadi bekerja keras, Ahok dengan mudah berbalik kembali mencari dukungan parpol agar dapat maju di pilkada bertarung dengan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Sekarang Ahok kembali menjadi orang partai dan partai ini adalah partai keempatnya.

Politik adalah soal kekuasaan dan memanfaatkan peluang-peluang. Sejauhmana peluang dapat dikapitalisasi bagi kepentingan sendiri maka itu sah-sah saja. Sehingga wajar orang berkata bahwa soal politik itu bukan soal yang perlu dibela mati-matian, semua orang adalah pragmatis, oportunis kutu lompat sekaligus

Berbeda kisahnya dengan Akbar Tanjung. Baru-baru ini ia menjadi perbincangan di lingkungan partai Golkar, Koalisi Jokowi dan juga Prabowo. Tetapi tidak ada yang membahasnya lebih keras ketimbang grup-grup sosmed di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam.

Ia baru-baru ini mengundang Jokowi hadir ke rumahnya untuk merayakan dies natalis 72 tahun Hmi serta peluncuran pembuatan film pendiri Hmi Profesor Lafran Pane. Beberapa hari sebelum acara tersebut sebuah meme’ Jokowi dan Akbar beredar dengan tulisan: Deklarasi KAHMI dukung Jokowi.

Dengan cepat sekali meme’ tadi menjadi perbincangan dan serangan kepada Akbar. Ia dianggap berkhianat kepada akar rumput kebanyakan alumni Hmi yang memang mayoritas berat ke Prabowo. Akbar lebih jauh dianggap memanfaatkan dies natalis, keluarga alumni dan juga Hmi sebagai alat untuk merapat ke istana.

Saiya tidak terlalu setuju dengan pendapat tadi.

Akbar barangkali satu-satunya tokoh elit politik yang mempunyai y loyalitas total ke satu partai saja.

Ketika 1998 Golkar diserang dari segala penjuru untuk dibubarkan karena terafiliasi sebagai partainya Soeharto, Akbarlah yang berdiri di depan menjaga Golkar dengan hastagnya #GolkarBaru. Ia ingin memisahkan Golkar yang orba dengan Golkar reformis dan Akbar berhasil menjaga Golkar sebagai partai pilihan mayoritas masyarakat Indonesia.

Selang kemudian mereka yang dulunya di Golkar dan ikut mencela Golkar mulai kembali ke Golkar, Akbar pun ditendang dan dikalahkan. Ia kemudian sempat dibawa ke pengadilan terkait dugaan korupsi, dan kehilangan jabatan pimpinan DPR.

Ketika JK naik mengalahkannya di satu Mubes yang keras di Bali, Akbar tidak memperoleh posisi apa pun di Golkar. Tetapi ia tetap di partai tadi. Akbar tidak melompat sebagaimana Wiranto membuat Hanura, Edi Sudrajat-Tri membuat Partai KPI, Sutiyoso. Ryas Rashid dan Andi Mallarangeng membuat PDPDK.

Konsistensi di garis partai inilah yang membuat Akbar dianggap contoh ideal dari apa yang kita sebut loyalitas politik. Ia dibunuh berkali-kali, dan berkali-kali pula ia muncul kembali.

Pada 2014 ketiga Golkar mendukung Prabowo-Hatta, Akbar ikut mendukung. Sekarang ketika Golkar ada di pihak Jokowi, maka wajar ia pun ikut mendukung Jokowi. Bagi senior dan kawan-kawan Hmi yang menurut saya mayoritas mendukung Prabowo maka ini adalah sikap politik Akbar. Ia tidak pernah berbeda dengan Golkar sebagai sebuah parpol. Ini contoh dari seorang loyalis partai dan loyalitas dalam politik.

Di dunia yang penuh dengan intrik, advonturisme, oportunisme, pragmatisme dan saling memanfaatkan maka orang sah-sah saja menjadikan dirinya seperti Ahok, dan sah pula menjadi seperti Akbar Tanjung. Hanya saja, di dunia seperti itu hanya loyalitaslah yang membuat seseorang eksis meski ia mati berkali-kali.

KUTIPAN DARI KAGAMA ANALISIS PETER F. GONTHA BAHWA UTANG JOKOWI HANYA RP.16 T. DALAM 4 TAHUN PEMERINTAHANNYA

Hi Teman2 Pertiwi, yuk kita viral kan sebanyak mungkin artikel ini…banyak sekali rakyat kecil termakan isu Jokowi membuat Indonesia ketiban utang.
Salam 👍 Tuhan Berkati🙏🙏🙏

*KUTIPAN DARI KAGAMA ANALISIS PETER F. GONTHA BAHWA UTANG JOKOWI HANYA RP.16 T. DALAM 4 TAHUN PEMERINTAHANNYA*

Salah satu tuduhan haters yang tersebar di medsos adalah Jokowi membuat Indonesia ketiban utang raksasa. Bayangkan, utang Indonesia mencapai Rp.5000 Triliun (5000 T). Buaanyaaak sekali, bagaimana bisa membayarnya.?!

Doni – sopir Grabcar – di Bekasi, termakan isu itu. Ia memaki-maki Jokowi melalui medsos, seorang advokat di Cikampek, Elyasa SH, mengumbar kebencian terhadap Jokowi dengan menulis utang negara 5000 T tadi. Tohir, seorang da’i di Lampung – teman Elyasa di Yogya – melakukan hal sama. Indonesia, menurutnya, akan bangkrut di tangan Jokowi karena utang yang sundul langit.

*Benarkah demikian.?!*

Peter F Gontha, pengusaha sukses – pendiri RCTI, SCTV, Berita Satu, Indovision, dan First Media – menyodorkan data dan fakta bahwa Indonesia di era Jokowi tidak akan bangkrut bahkan akan melejit perekonomiannya, karena Jokowi bukan penumpuk utang. Malah, dialah presiden yang menurunkan utang Indonesia.

Gontha, di awal tulisannya, menyebutkan: Di dunia ini, ada tiga negara yang terancam bangkrut pada tahun 2018 karena krisis moneter. Yaitu *Turki, Venezuela, dan Malaysia.*

Seperti dilansir Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng menjelaskan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit *(sekitar Rp3.500 T)* pada 31 Desember 2017. Konon, utang tersebut berhilir pada kasus mega korupsi mantan Perdana Menterinya (PM) *Najib Razak beserta istrinya*.

Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk. Warga Malaysia membuat gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan. Ini dilakukan melalui sebuah situs crowdfunding. Di samping itu, PM Mahathir Mohamad memotong gaji para Menteri dan anggota parlemen seluruh negara bagian sebesar 10% untuk mengurangi utang yang mencapai *1.087 T Ringgit itu*.

Betul. Utang Indonesia lebih besar dari Malaysia. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, pada akhir April 2018, jumlah utang luar negeri (ULN) berada di angka 356,9 Miliar USD. Sekitar *Rp 5.000 T.*

Pertanyaannya: Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia tidak.?! Demikian pertanyaan Gontha. Pria yang mendapat julukan *“Rupert Murdoch”* Indonesia (karena memiliki media massa) itu, menjawab sendiri pertanyaannya.

Menurut Gontha – hal itu terjelaskan dari rasio utang negara terhadap *Produk Domestik Bruto* (PDB). Utang Malaysia memang hanya Rp 3.500 triliun. Tapi rasionya terhadap PDB lebih dari *60%*. Sebaliknya Indonesia, meski berutang hingga Rp 5.000 T, namun rasio utangnya terhadap PDB hanya *29%*.

“Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit membayar cicilan utangnya. Hal ini akan membawa efek berantai kondisi moneter Malaysia,” tulis mantan akuntan di City Bank New York itu.

Tahun-tahun sebelumnya Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300 Miliar Ringgit. Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi akibat dugaan kasus korupsi di *1MDB* (1 Malaysia Development Berhad). 1MDB adalah semacam *BUMN* yang didirikan mantan PM Najib Razak untuk menghimpun dana pembiayaan proyek infrastruktur Malaysia.

*Turki* nyaris bangkrut karena pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan *Venezuela* bangkrut karena dulu, di zaman Hugo Chavez terlalu menina-bobokan rakyatnya dengan *subsidi macam-macam* yang berasal dari *petro dolar*.

Akibatnya, ketika harga minyak jatuh, negeri pun koleps. Keuangan negara ambles. Rakyat marah karena harga-harga melejit. Dunia internasional tak mempercayainya lagi.

*Indonesia Hebat..!!*

Tulis Gontha: Ada yang salah dari kritik oposisi terhadap utang pemerintah. Mengapa? Karena cerita balutan utang yang dikritik oposisi hanya menekankan kata “utangnya saja”. Tanpa penjelasan komprehensif. Oposisi hanya mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya disembunyikan.

Soal utang negara, tulis Gontha, sepanjang pemerintahan Jokowi tercatat sekitar Rp 1.644,22 T. Bila utang Era Jokowi tadi ditambah dengan utang Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp 2.608,8 T), memang jumlahnya besar sekali. Per-Juli 2018, tercatat 4.253,02 T.

So, utang Jokowi hanya Rp 1.644,22 T. Tapi oposisi mengangkatnya menjadi Rp.5000 T. Padahal, jika cermat itung-itungannya, utang Jokowi jauh lebih kecil dibanding utang SBY.

*Pertanyaan berikutnya – tulis Gontha — manfaat apa yang dirasakan rakyat dari utang Era Jokowi.?!*

*Jawabnya adalah :*

Pembangunan I infrastruktur secara massif di seluruh Indonesia! Mulai infrastruktur air, pertanian, listrik, BBM (satu harga), dan jalan raya. Semua wilayah terisolasi dibuka. Jokowi membuka gerbang konektivitas seluruh nusantara. Mulai dari wilayah terpencil, termasuk perbatasan (dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di tengah Samudera Hindia dan Pasifik.

Tak hanya itu. Ada yang luput dari perhatian publik. Jokowi selain menambah utang, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.

*Lihat data :*

Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) hingga 2018 (Era Jokowi) yang dibayar pemerintah mencapai Rp.1.628 T. Utang yang dibayar ini merupakan pinjaman dan surat berharga negara (SBN).

*Pada tahun 2014 :*

– Misalnya Pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo Rp.237 T.

– Tahun 2015 sebesar Rp.226,26 T.

– Tahun 2016 sejumlah Rp.322,55 T.

– Sedangkan tahun 2017 sebesar Rp 350,22 T.

– Bahkan tahun 2018 di tengah isu miring, Jokowi membayar utang senilai Rp 492,29 T.

Jokowi berutang Rp 1.644 T, tapi mampu membayar utang Rp 1.628 T. Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp 16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.

Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun yang mencapai Rp.2.608.8 Triliun.

*Kenapa Era SBY utangnya demikian besar.?!*

Karena untuk menyubsidi BBM Rp.300 Triliun/tahun. Belum lagi rente yang dicatut broker minyak Petral di Singapura. Kedua kanker tersebut telah dipotong Jokowi.

*Gontha – akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu bertanya, pakah hal itu bisa disebut gali lubang tutup lubang.?!*

No. Hanya pebisnis anak papi dan mami yang menyatakan pemerintah berutang untuk gali lubang tutup lubang – tulis mantan Vice Presiden American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.

Jokowi, sebelum jadi presiden adalah pengusaha handal. Ia bukan pengusaha rente. Bukan pengusaha Papa minta saham.

Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha, perlu modal. Dan modal didapat dari utang. Dengan berutang, pelaku bisnis bisa membeli aset, atau alat penggerak usaha. Hasilnya bisa untuk membayar utang.

Lihat driver gojek. Awalnya berutang untuk beli motor. Motor itu untuk ojek online (ojol). Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp.5 – 8 juta sebulan. Ia bisa menghidupi anak istrinya dan melunasi cicilannya. Motor pun kemudian jadi aset sang driver.

*Itu pula yang dilakukan negara. Asal kalkulasinya cermat, utang itu akan terbayar dan negara punya aset. Hebatnya lagi, tidak seperti motor yang nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin mahal. Negara pun berlimpah aset berharga. Kaya!*

Jokowi selama 4 tahun mampu membayar utang Rp.1.628 Triliun. Jokowi berjanji tidak akan menambah utang lagi, khususnya utang luar negeri berbasis USD. Jokowi juga menginginkan semua pembangunan infrastruktur rampung secepatnya. Artinya, infrastruktur tersebut segera menghasilkan uang.

*Kalau dalam 4 tahun Jokowi bisa membayar Rp 1.628 triliun. Lalu setiap tahunnya pendapatan negara meningkat karena infrastruktur yang dibangunnya telah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia bisa membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.*

*Bila itu terjadi, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), sekitar 10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang. Wow..!! Bila tercapai, Indonesia akan tumbuh menjadi negara kuat dan makmur.*

Semoga bermanfaat bagi orang-orang yang picik pikirannya, Aamiin..3X YRA 🙏🤗.

Demagogi

Oleh : Rocky Gerung

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.

Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.

Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.

ooo

Demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau, yaitu mencari sensasi dalam psikologi massa untuk menikmati kebanggaan diri. Sang tokoh akan mencari penonton demagogis, mereka yang siap menelan angin, siap berjuang dengan modal angin. Dengan psikologi inilah politik mengepung publik. Demokrasi kita hari ini ada dalam situasi itu.

Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk-pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut-menyahut di ruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik. Suatu sensasi aphrodisiacmemompa adrenalin untuk memuaskan politik demagogi: “Aku mengejek, maka aku ada.” Megalomania di sana, hipokrasi di sini. Dua-duanya kekurangan pikiran.

ooo

Negeri ini didirikan dengan pikiran yang kuat: bahwa kemerdekaan harus diisi dengan pengetahuan, agar anak negeri tak lagi dibodoh-bodohi oleh kaum pinter dari luar. Kebodohan mengundang penjajahan.

Kemerdekaan adalah hasil siasat intelektual, oleh yang berbahasa, maupun yang bersenjata. Politikus dan pejuang tumbuh dalam kesimpulan yang sama, yaitu kemerdekaan adalah tindakan pedagogis.

Panglima Sudirman semula adalah seorang guru, lalu jadi jenderal.

Jadi, dari mana kita belajar demagogi?

Kendati suka memanfaatkan emosi massa, Sukarno bukanlah seorang demagog. Ia memang mengumbar retorika, tapi tetap dalam kendali logika yang kuat. Dalam sebuah pidato lapangan di depan barisan tentara, Sukarno mengucapkan kalimat kurang-lebih begini: “Saudara-saudara tentara, kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya rakyat. Jadi kalian adalah alatnya alat.” Bukan sekadar retorikanya bagus, Sukarno mengucapkannya dalam suatu silogisme. Suatu pelajaran logika, bagi rakyat.

Jadi, dari mana kita belajar mengejek? Tan Malaka memiliki kekayaan metafor. Sutan Sjahrir lihai membekuk pikiran lawan debat. Mohammad Hatta bersih dalam berkalimat. Begitu juga yang lain. Pendiri negeri tumbuh dalam tradisi pikiran. Pidato Sjahrir di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1947), ketika mempertahankan kemerdekaan, disebut oleh New York Herald Tribune sebagai salah satu pidato yang paling menggetarkan. Jebakan diplomat Belanda kepada Dewan Keamanan PBB untuk memilih: “Siapa yang Saudara percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami,” ditanggapi Sjahrir dengan enteng: “Mereka mengajukan tuduhan tanpa bukti, ketimbang membantah argumen saya.”

Debat adalah pelajaran berpikir.

Negeri ini dihuni oleh gagasan, karena kita bertemu dengan berbagai pengetahuan mancanegara. Filsafat dan ideologi sudah lama berseliweran dalam pikiran pendiri negeri. Rasionalitas dan teosofi beredar luas di awal kemerdekaan. Sastra dan musik disuguhkan dalam pesta dan konferensi. Suatu suasana pedagogis pernah tumbuh di negeri ini. Tapi jejak poskolonialnya hampir tak berbekas, kini.

Memang, ada yang putus dari masa itu dengan periode Orde Baru: kritisisme.

Teknokratisasi pikiran, ketika itu, melumpuhkan kebudayaan. Birokratisasi politik mengefisienkan pembuatan keputusan, karena tak ada oposisi.

Kritik yang pedas memerlukan pengetahuan yang dalam. Sinisme yang kejam datang dari logika yang kuat. Dua-duanya kita perlukan untuk menguji pikiran publik agar tak berubah menjadi doktrin, agar panggung publik tak dikuasai para demagog. Kita hendak menumbuhkan demokrasi sebagai forum pikiran.

ooo

Debat adalah metode berpikir. Titik kritisnya adalah ketika retorika mulai tergelincir. Titik matinya adalah ketika dialektika terkunci.

Itulah saat kita menikmati debat sebagai pelajaran berpikir, suatu peralatan pedagogis untuk mendidik rakyat dengan pikiran. Demokrasi adalah sekolah manusia, bukan arena sabung ayam. Hari-hari ini, kita tak melihat itu karena busa kalimat memenuhi ruang sosial. Busa kekuasaan, busa dendam, busa hipokrit. Sementara di belakang panggung para dalang mengatur siasat, penonton dijebak dalam psikologi: terlalu optimistis atau terlalu pesimistis. Tak ada yang kritis. Tan Malaka pernah memberi nasihat: “Kita tak boleh merasa terlalu pesimistis, pun tak boleh merasa terlalu optimistis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.”

Surat Terbuka untuk Gerakan Mahasiswa Indonesia

🇮🇩 Saya Belajar Banyak Darinya, Sosok Itu Bernama Dokter Hariman Siregar
(Surat Terbuka untuk Gerakan Mahasiswa Indonesia)

Oleh:
RICKY TAMBA, S.E.
(Jurubicara Jaringan ’98)

1 Mei 1950 dia akan genap berusia 69 tahun, sebuah angka penanda kematangan jiwa dan pemikiran bagi seorang manusia. Beberapa hari lalu saya kembali melihatnya berpidato, macan podium yang tak pernah surut keberanian dan heroisme kerakyatannya. Tokoh langka di negeri ini, senang menyepi dari panggung kekuasaan buruan para elite politik mainstream. Dokter Hariman Siregar namanya, Abang panggilan kesayangannya.

Ya, tepat 15 Januari 2019 kemarin, saya yakin Bang Hariman gelisah akan nasib republik yang tak jua maju. Masih sama (andai tak mau dikatakan lebih mundur) daripada keadaan 45 tahun yang lalu, saat dia bergerak bersama ribuan mahasiswa dan rakyat melakukan longmarch dari kampus UI Salemba untuk menentang dominasi modal asing dan kritik terbuka kesalahan strategi pembangunan Orde Baru.

Malari, Malapetaka Limabelas Januari. Sebuah singkatan stigmatisasi hitam rekayasa intelijen Orde Baru guna memukul mundur gerakan mahasiswa 1974 yang kian radikal dan progresif, dipimpin seorang anak muda gelisah bernama Hariman Siregar. Begitu banyak pengorbanan pribadi yang harus dia berikan saat itu, tapi Abang tetap kokoh berdiri menantang ombak kehidupan hingga saya melihatnya beberapa malam lalu. Kami berpisah setelah saya diberikan buku baru berjudul “Menjadi Benih Perlawanan Rakyat. Hariman Siregar, Malari ’74 dan Demokrasi Indonesia,” yang kini telah ditandatangani beliau dengan pesan khusus, “Untuk Ritam, Jangan Berhenti!”

Saat acara peringatan 45 tahun Malari di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat kemarin, saya yakin Abang sangat bahagia banyak sahabat lama dan para yuniormu yang datang, tak peduli sekarang di kubu mana, 01 atau 02 atau bahkan akan tetap memilih untuk tidak memilih. Tapi dari kejauhan, saat Abang tampak sibuk memainkan gadget mengambil foto dari atas tribun kanan Teater Kecil, saya menatap penuh kasih sambil menebak bahwa ingatan Abang pasti sedang kembali bernostalgia ke masa silam, hari di mana perlawanan mahasiswa kembali menunjukkan taringnya menghadapi kekuasaan besar bernama negara.

Bang, resahmu akan negeri dan nasib rakyat, takkan jauh beda dengan resahku. Mimpimu akan demokrasi yang berkeadilan, semoga juga akan tetap terpatri kuat di semangat juangku. Terkadang, apa yang kita perjuangkan, takkan selalu sama dengan hasil yang kita dapatkan.

Cita-cita mulia kita masih butuh waktu dan proses agar dapat terwujud sesejatinya seperti yang selalu kau ajarkan bahwa demokrasi yang benar membutuhkan 4 hal yakni hukum yang adil, partai politik yang sehat, pers yang mandiri dan masyarakat sipil yang kuat. Semua masih buram abu-abu, karena ternyata kita masih harus menunggu datangnya pemimpin baru yang mengerti hakikat demokrasi, masa di mana disparitas ekonomi mengecil, juga negara hadir sebagaimana mestinya.

Kau juga bilang di atas podium beberapa hari lalu bahwa kini demokrasi dibajak oleh uang dan para pemodal, sehingga pembangunan belum berpihak kepada rakyat miskin, sibuk berhutang dan memanjakan modal asing, sebagaimana slide video backdrop panggung di belakangmu, Bang. Tak ada yang bisa membantah seruanmu, walau kini penguasa terus sibuk berdalih dengan berbagai angka statistik yang meragukan bagi kita, kaum yang sadar akan fakta dan data riil lapangan.

Bang, doakan kami para yuniormu generasi 1998 mampu terus melanjutkan amanah perjuanganmu mengembalikan demokrasi, walau sesungguhnya revolusi yang kita mau, agar tatanan ekonomi-politik lebih berpihak kepada rakyat dan semua setara di depan hukum. Terima kasih atas bimbingan dan nasehat berpuluh tahun, yang membuat saya tetap tegar di tengah gelombang pragmatisme dan politik transaksional yang mendisintegrasi bangsa.

Bang, tetap semangat dan sehat selalu agar kita dapat duduk bersama saat sang pemimpin yang kita tunggu akan hadir untuk membenahi republik yang kita cintai sepenuh hati ini. Bila belum tiba waktunya, semoga para pelanjut gerakan mahasiswa Indonesia akan meneruskan jejak langkah dan konsistensimu. Demi demokrasi, untuk rakyat.

Ya, saya Ricky Tamba, saya belajar banyak darinya, sosok itu bernama Dokter Hariman Siregar….

Jakarta, 18 Januari 2019 🇮🇩

SORGA BUKAN CERITA

*-Tulisan bagus dari seorang asing yang memandang Indonesia dari luar-*

Selamat malam sahabat.
SORGA BUKAN CERITA

Musim dingin, ketika salju turun, di Eropa atau Amerika Utara, suhu bisa mencapai *-minus 40 derajat celsius-*. Artinya, kulkasmu masih lebih hangat.

Itulah saat semua tetumbuhan ” mati “, kecuali pohon cemara. Itulah saatnya darahmu bisa berhenti menjadi es ketika kamu keluar rumah tanpa pakaian khusus.

Musim salju adalah ketika manusia bertahan hidup dan beraktivitas yang mungkin, tanpa bisa berjalan jika tak ada bantuan peralatan dan teknologi.

Tanpa itu, mati kedinginan. Dan ada satu periode dimana salju berbentuk badai. Badai salju. Terbayang apa yg bisa dilakukan selain bertahan hidup diruangan berpemanas.

Padang pasir. Begitu keringnya sampai sampai manusia yang berdiam disana membayangkan sungai sungai yang mengalir sebagai surga.

Hanya ada beberapa jenis pohon yang bisa hidup dalam suhu bisa diatas 40 derajat celcius. Keringatmu bisa langsung menguap bersama cairan tubuhmu. Dan keberadaan air adalah persolan hidup mati. Sungguh bukan minyak.

Saya sungguh tidak mengerti ketika ada orang yg masih blm percaya bahwa Indonesia itu serpihan sorga.

Cobalah kamu bercelana pendek, pakai kaos dan sandal jepit jalan jalan di Kanada ketika musim dingin. Atau jalan jalan dipadang pasir. Dijamin mati.

Disini, dinegaramu, kapan saja, mau siang mau malam kamu bisa jalan jalan kaosan tanpa alas kaki. Mau hujan mau panas, selamat.

Di Eropa Amerika paling banter kamu akan ketemu buah2an yg sering kamu pamer2in. Apel, anggur, sunkist, pier, dan semacamnya.
Di Timur tengah paling kamu ketemu kurma, kismis, kacang arab, buah zaitun, buah tin.

Di Indonesia, kamu tak akan sanggup menyebut semua jenis buah dan sayuran, umbi2an, kacang2an, bunga2, rempah2, saking banyaknya.

Di Amerika Eropa, kamu akan ketemu makanan lagi lagi sandwich, hot dog, hamburger. Itu itu saja yang divariasi. Paling banter steak, es krim, keju.

Di Timur tengah ?. Roti. Daging dan daging dan daging lagi.

Di Indonesia ?. Dari Sabang sampai Merauke, mungkin ada ratusan ribu varian makanan. Ada puluhan jenis soto, varian sambal, olahan daging, ikan dan ayam tak terhitung macamnya.

Setiap wilayah ada jenisnya. Kue basah kue kering ada ribuan jenis. Varian bakso saja sudah sedemikian banyak. Belum lagi singkong, ketan, gula, kelapa bisa menjadi puluhan jenis nama makanan.

Dan tepian jalan dari Sabang sampai Merauke adalah garis penjual makanan terpanjang didunia. Saya tdk berhasil menghitung penjual makanan bahkab hanya dari Kemayoran ke Cempaka Putih.

Di Indonesia, kamu bebas mendengar pengajian, sholawatan, Lonceng Gereja, dang dut koplo, konser rock, jazz, gamelan dan ecrek2 orang ngamen. Di Eropa, Amerika, Timur tengah, belum tentu kamu bisa menikmati kecuali pakai head set.

Saya ingin menulis betapa surganya Indonesia dari segala sisi. Hasil buminya, cuacanya, orang2nya yang cerdas2 kreatif dan bersahabat, budayanya, toleransinya, guyonannya.

Keindahan tempat2 wisatanya dan seterusnya. Saya tidak mungkin mampu menulis itu semua meskipun jika air laut menjadi tintanya.

Saking tak terhingganya kenikmatan anugerah Allah swt pada bangsa Indonesia.

Indonesia ini negara kesayangan Tuhan.

Kamu tidak bisa mensyukuri itu semua ?. Jiwamu sudah mati.

*-Pesan-*
Janganlah sorga kita ini kita hancurkan hanya karena syahwat berkuasa dan keserakahan ketamakan tiada batas.

Janganlah kehangatan persaudaraan yang dicontohkan oleh embah kakek opung kita dihancurkan hanya karena kita merasa paling benar dan paling pintar.

Tuhan hanya mensyaratkan kamu semua bersyukur agar sorga ini tidak jadi neraka. Bahkan andai kamu sering bersyukur maka nikmat2 itu akan ditambah.

Bersyukur itu diantaranya, tidak merusak apa2 yg sudah baik. Baik alam lingkungan, sistem nilai, budaya asli, kebersihan dan semacamnya.

*_Jika kita merusak alam,_*
*_Alam akan berproses membuat keseimbangan/keadilan_*

Politik, berjangka pendek jangan sampai merubah sorga ini jadi neraka. *-Jangan berkelahi-*

Pandai2lah menahan diri seperti orang berpuasa. Jangan jadi pengikut orang2 yang haus kekuasaan dan ketamakan luar biasa.

*Maka kenikmatan apa lagi yang hendak kita dustakan ?*

*MARI JAGA NKRI DEMI ANAK DAN CUCU …*

🙏🤝🏽🇲🇨🇲🇨